ID. 055-26022018-080744-042-02


Tulisan ini adalah catatan kecil selaku pengelola jurnal, sebagai penyaksi jatuh bangunya jurnal dan penyaksi bagaimana meningkatkan tata kelola jurnal, bahkan memberi hidup pada jurnal itu sendiri. Catatan kecil ini dibuat sebagai kapasitas sebagai editor sekaligus redaktur jurnal sejak tahun 2015, sehingga ini merupakan akumulasi dari nano-nanonya pengalaman sebagai pengelola jurnal. Tulisan ini difokuskan pada tiga tantangan utama, yaitu problem sirkulasi artikel, tata kelola penyuntingan, dan apresiasi terhadap pengelola jurnal.

Tantangan pertama yang diulas dalam tulisan ini berupa sirkulasi artikel adalah hal-hal yang terkait dengan sumber artikel, kelancaran komunikasi dan respons antara penulis dan editor, dan komitmen penulis dalam memenuhi persyaratan dan ketentuan jurnal. Tantangan pertama yang dihadapi pengelola terkait dengan sirkulasi artikel adalah sulitnya mendapatkan artikel dari luar yang mensyaratkan prosentasi 80% penulis luar dan 20% penulis dalam. Berbagai cara sudah dilakukan untuk mengirimkan poster call for paper dan/atau permintaan tulisan di berbagai media sosial atau grup percakapan. Semakin miris sebab pertanyaan pertama yang selalu diajukan adalah “Apakah jurnalnya sudah terakreditasi?” Pertanyaan ini sangat menganggu, menguji rasa percaya diri dan terkesan melecehkan jurnal. Tentu saja jika sudah terakreditasi, maka cara demikian tidak akan terjadi, karena penulis yang tentu antri untuk memasukan artikel. Pertanyaan demikian menurut saya justru akan semakin mematikan keberadaan jurnal-jurnal yang masih dalam tahap pembinaan seperti jurnal kami yang sebetulnya butuh afirmasi pendampingan dalam bentuk advokasi dan asistensi. Inisiasi yang dilakukan oleh Relawan Jurnal Indonesia (RJI) untuk memberikan pelatihan Training of Trainer bagi pengelola jurnal adalah hal yang sangat mulia dan patut diapresiasi.

Persoalan kedua adalah artikel yang dimasukan bukan hasil penelitian, tetapi konsep pemikiran yang tidak banyak didukung oleh sumber utama, seperti buku-buku atau jurnal yang terkait dengan tema tersebut. Studi teks atau review tema/pustaka juga adalah hasil penelitian. Akan tetapi dalam referensi kutipan dan daftar pustaka tidak didukung secara mendalam dan banyak tentang kajian-kajian yang membahas tema serupa, hanya berupa singgungan-singgungan secara sepintas.

Persolan ketiga adalah para penulis terlalu “jujur dan apa adanya” mengirimkan artikel di jurnal, baik struktur maupun diksi yang masih berupa laporan penelitian, bukan naskah akademik yang siap dipublikasikan. Penulis terkesan malas menyesuaikan artikel mereka dengan tata cara penulisan meskipun template sudah dikirimkan kepada mereka. Akibatnya, admin terkuras waktunya untuk menambah, mengurangi bahkan mereparasi bahasa maupun sistematika artikel sesuai dengan template jurnal. Belum lagi bicara substansi artikel yang sangat minimalis dan irit terhadap pemenuhan standar tulisan ilmiah, yaitu ketiadaan state of the art, novelty atau out of date referensi terbaru. Demi mengejar deadline waktu terbitan, admin atau editor berusaha sekuat tenaga untuk memenuhi standar-standar tersebut. Admin atau editor semestinya layak dicantumkan sebagai penulis kedua atau minimal penulis korespondensi karena kontribusinya tidak kecil. Ada dilema yang dihadapi pengelola jurnal antara menolak artikel (apalagi artikel yang berasal dari luar) yang tidak sesuai standar jurnal dengan deadline waktu terbit yang sudah ke- pepet demi menjaga konsistensi jangka waktu dan ketepatan waktu terbit.

Persoalan keempat adalah penulis tidak lagi mengembalikan artikel sesuai catatan reviewer atau kembali tetapi tanpa perbaikan sama sekali. Yang membuat kesal pula adalah penulis (terutama penulis dalam) meminta kepada admin yang menyesuaikan dengan ketentuan jurnal dan mendadak lupa ketika menerima honorarium bahwa yang membuat artikelnya bisa terbit dengan tampilan yang cantik adalah keikhlasan admin atau editor.

Tantangan kedua yang dihadapi pengelola jurnal adalah tata kelola penyuntingan. Dalam laman jurnal, editorial team berjejer dengan rapi dan cukup komplit, baik representasi bidang ilmu maupun variasi institusi bahkan negara. Faktanya, susunan editorial team hanyalah etalasi semu yang kesanya untuk “menakut-nakuti” penulis agar termagnet untuk memasukan artikel di jurnal. Tata kelola penyuntingan sering kali bersifat tunggal “one man show”, sebab review artikel hanya dilakukan oleh satu atau dua orang. Dalam satu kali terbitan dengan sepuluh artikel, maka satu atau dua editor saja yang mereview sepuluh artikel tersebut. Sementara idealnya, satu artikel direview oleh satu atau dua orang editor yang sesuai dengan bidang ilmu dengan double blind review. Artinya hanya satu atau dua orang pengelola saja yang mengepulkan dapur jurnal, meskipun nama-nama lain berjejer sebagai editor atau editorial board. Jurnal bisa tetap hidup oleh karena dedikasi, komitmen, dan keiklasan satu atau dua orang dimaksud. Ada keinginan kuat untuk melibatkan mitra bebestari yang berasal dari luar institusi, akan tetapi mengingat dana pengelolaan jurnal yang sangat minimalis menjadi kendala tersendiri.

Tatangan ketika adalah apresiasi terhadap pengelola jurnal. Kerja-kerja pengelolaan jurnal adalah pekerjaan yang tidak ringan dan berlangsung sepanjang tahun, mulai dari penjaringan artikel, sirkulasi artikel ke editor, pemeriksaan naskah, finalisasi naskah yang siap terbit, hingga naskah siap untuk diterbitkan. Tidak ada libur dalam kasus kerja-kerja pengelolaan jurnal. Kinerja sepanjang tahun ini sayangnya tidak diapresiasi dengan cukup layak secara institusional. Apalagi jurnal dalam lingkup perguruan tinggi nonBLU dengan dalih bahwa dana pengelolaan jurnal terikat oleh ketentuan di Standar Biaya Umum (SBU) Kementerian Keuangan yang sangat minimali pula. Bandingkan dengan honorarium bagi penulis yang relatif cukup.

Kesannya adalah penulis diapresiasi dengan layak akan tetapi dapur yang mengelola tulisan tersebut tidak cukup layak untuk diapresiasi. Bagaimana mungkin kinerja pengelola jurnal yang sepanjang tahun yang tanpa putus diapresiasi minimalis seperti itu, dengan tuntutan untuk menjadi media terbitan yang menggenjot publikasi para akademisi Indonesia minimal di lembaga tersebut. Kondisi ini makin diperparah jika lembaga tidak memiliki misi dan keberpihakan secara kebijakan dan finansial pada pengelolaan terbitan jurnal yang baik. Bisa saja pengelola jurnal berkeinginan untuk meningkatkan kapasitas dalam manajemen tata kelola  jurnal,  baik  terkait  IT,  sirkulasi  OJS  maupun  manajemen  penyuntingan naskah, misalnya dengan mengikuti pelatihan yang relevan. Namun, anggaran untuk mendukung harapan demikian kadang-kadang tidak diapresiasi dengan cukup baik pula.

Sebagai penutup catatan kecil ini, saya ingin menggarisbawahi bahwa ada fakta paradoksal yang dihadapi para pengelola jurnal untuk kasus di jurnal kami. Kinerja yang dilakukan pengelola jurnal adalah model maksimalis, akan tetapi input yang masuk berupa artikel, apresiasi kebijakan dan supporting dana mengikuti model minimalis. Pendeknya, mengelola jurnal dibutuhkan dedikasi, komitmen, dan keikhlasan yang lebih dari para pengelola jurnal. Semoga Allah memberi kekuatan dan menjaga keikhlasan kita semua. Amin.

*Penulis adalah peserta TOT Relawan Jurnal Indonesia
Mengelola Jurnal, Membutuhkan Sebuah Keikhlasan

Post navigation