ID. 105-07032018-171609-079-04


Menjadi pengelola jurnal bisa dikatakan sebagai pekerjaan yang lebih bersifat pada kegiatan sosial untuk mencari pahala. Latar belakang dari pengelola jurnal kami kesemuanya adalah dosen, menjadikan kami cukup kewalahan. Tuntutan untuk melakukan Tri Dharma, memajukan jurnal dengan berbagai pembaruan OJS, indeksasi dan tuntutan untuk melakukan proses perbaikan menuju jurnal akreditasi terkadang membuat kami jenuh dan penat. Perubahan dari sistem manual menjadi sistem OJS menjadi permasalahan tersendiri bagi kami. Ada beberapa teman pengelola yang belum cukup terbiasa dengan OJS. Sebagai editor terkadang kami masih harus mengirimkan artikel secara manual via email kepada mereka karena tidak menguasai OJS. Beberapa reviewer-pun tidak jauh beda, karena mereka tidak menguasai OJS kami juga harus mengirimkan artikel secara manual via email mereka, bahkan di awal-awal sempat kami harus memberikan artikel dalam bentuk hardcopy kepada beberapa reviewer.

Alhamdulillah setelah jurnal kami terindeks DOAJ, kami tidak mengalami kesulitan mencari para author. Hal ini dikarenakan kami melakukan barter artikel dengan jurnal lain, serta menggunakan jalur pertemanan antar dosen dan beberapa mahasiswa pascasarjana di universitas lain yang ingin melakukan publikasi sebagai syarat kelulusan. Peraturan jabatan fungsional yang memberikan skor lebih kepada jurnal yang terindeks DOAJ sangat memberikan keuntungan dan kemudahan bagi kami untuk mencari author. Permasalahan lain muncul saat kami mencari author dari jalur pertemanan, walaupun cara ini cukup efektif namun cukup merepotkan. Karena merasa kenal akibatnya sebagian besar dari author tidak mau mengirimkan artikel via OJS dan hanya via email pribadi kepada tim editor. Hal ini menyebabkan tim jurnal kesulitan untuk melacak artikel yang sudah masuk dan mana artikel yang harus ditindak lanjuti terlebih dahulu.

Tim yang kurang solid kadang menjadi masalah tersendiri bagi kami. Ada beberapa orang yang sangat mendominasi sampai tidak membiarkan anggota tim yang lain untuk dapat memperoleh perkembangan terkait jurnal dan ada pula anggota tim yang sangat pasif, bahkan menanyakan bagaimana perkembangan jurnal dan artikel pun tidak. Akhirnya kemampuan tim kami dalam mengelola jurnal menjadi tidak seimbang. Pembagian tugas yang dikerjakan menjadi berat sebelah, karena ada anggota tim yang tidak mau berbagi tugas atau bahkan ada anggota tim lain yang tidak mampu menyelesaikan tugasnya karena tidak paham sistem (misal penggunaan OJS dan plagiarism checker software).

Masalah pendanaan juga menjadi permasalahan di jurnal kami. Dana yang dialokasikan oleh pihak universitas kadang kurang memenuhi, ketika kami harus melakukan pemeliharaan OJS, berlangganan plagiarism checker software, memberangkatkan beberapa tim jurnal untuk melakukan pelatihan terkait pengelolaan jurnal, memberi cinderamata untuk reviewer. Semua pengeluaran ini menjadikan kami sebagai tim pengelola jurnal benar-benar harus mengalah untuk digaji seikhlasnya. Sehingga benar jika dikatakan bahwa menjadi pengelola jurnal harus ikhlas, karena lebih cenderung sebagai kerja mencari pahala dibandingkan mencari uang. Rasa lelah terbayar dengan rasa bahagia, ketika jurnal kami bisa terus terbit, terindeks dan terus meningkat kualitasnya menuju jurnal terakreditasi.

*Penulis adalah peserta TOT Relawan Jurnal Indonesia
Jurnal adalah Ladang Pahala bagi Pengelola Jurnal

Post navigation