Jurnal itu menjadi satu kata yang unik ketika dikomunikasikan dengan orang biasa. Bisa berarti sebuah neraca perdagangan, karena jurnal itu adalah laporan keuangan. Makanya, ketika ada istilah-istilah submit, publish, reviewer, double blind review, menjadi sebuah istilah yang sangat aneh bagi orang akuntansi, keuangan dan bisnis yang juga terbiasa mengelola jurnal, karena Jurnal itukan neraca perdagangan. Apalagi mendengar istilah Jurnal Ilmiah, yang terdiri dari dua kata, yaitu jurnal dan ilmiah. Haduh, “Iku panganan opo?” [itu makanan apa?.

Mendengar kata ilmiah saja orang sudah mblenger. Maka yang terbayang adalah segudang kosakata dan tata bahasa yang rumit, dengan aturan dan kaidah penulisan yang membuat orang malas mengetik, membaca dan sangat tekstual. Hingga beberapa pertanyaan menggelayut di pikiran saya “Pemilihan kosa kata yang ilmiah itu yang seperti apa?” “Dalam satu kalimat terdiri dari berapa kata?”, dan “Dalam satu paragraf, terdiri dari berapa kalimat?” Saya rasa pertanyaan-pertanyaan ini semakin menyesakkan.

Kita terkadang bingung dengan istilah orang lain yang menyebutkan artikel atau naskah itu adalah jurnal. Ada salah satu pesan di WhatsApp: “Bapak Ibu yang mempunyai Jurnal Pendidikan, Bagi yang berminat, kami tunggu jurnalnya”. Ini adalah pemberitahuan dari pengelola jurnal. Saya jadi gagal paham dengan pengumuman itu, apakah ditujukan kepada pengelola jurnal atau kepada penulis? Kalau untuk sesama pengelola jurnal, berarti bisa barter artikel. Jika ditujukan kepada penulis, harusnya yang mempunyai naskah/artikel. Lalu saya balas: Perlu diedit lagi pengumumannya, agar tidak menjadikan orang gagal paham.

Menjadi pengelola jurnal ini asyik. Sebuah jabatan yang abadi dan dipilih oleh yang punya kampus. Bukan jabatan pilihan yang diperebutkan. Hanya orang aneh yang mau menjadi kepala jurnal di sebuah institusi, dengan seabreg tuntutan untuk AIPT, dokumentasi artikel yang untung-nya sudah tidak cetak lagi dan sekarang dituntut pula untuk menguasai IT. Harus terakreditasi dan terindeks sesuai arahan Kemenristekdikti. Mendaftar di ARJUNA dan menunggu terindeks SINTA. Menyesuaikan arahan ARJUNA dan harus punya DOI.

OJS merupakan sebuah platform pengelolaan jurnal ilmiah secara online yang bersifat open source, sehingga tidak heran jika pengelola jurnal itu biasanya adalah orang IT. Apapun itu, paling tidak harus mengerti dan belajar IT. Dan yang menjadi aneh lagi, saya justru Social Sciences dengan jurusan Antropologi Sosial S2-nya dan Seni Tari S1-nya. Haduhh, blassss ora nyambung. Terpuruk di dunia jurnal yang serba IT yang kerjanya secara online.

Nah. Pengelola jurnal jaman now itu, bekerjanya itu di dunia maya. Dengan satu laptop inventaris kantor yang memakai jaringan internet kabel. Ditambah satu pegawainya dengan satu personal computer (PC) yang lumayan canggih dengan jaringan kabel juga. Berdua saja dan punya keasyikan sendiri-sendiri, selalu memperbaiki OJS yang tidak akan pernah sempurna. Belum mahir di OJS 2, sudah keluar OJS 3. Betul… Betul.

Dua puluhan jurnal dikelola yang berasal dari masing-masing prodi dalam satu institusi yang harus ditanganinya. OJS adalah program yang cukup rumit bagi mereka yang baru memulai jurnal secara online. Ketika pengelola jurnal prodi tidak mampu menanganinya, maka sang kepala jurnal yang turun tangan langsung bersama staf-nya untuk membenahi secara online. Masalah kepatuhan kepada panduan penulisan dan template, perlu disinkronkan dengan petunjuk yang sudah diletakkan di OJS. Semua pekerjaan dilakukan dengan hasil yang virtual, karena indexing itu sesuatu yang maya dan abstrak.

Semua aktivitas dilakukan secara online dengan sebuah tempat di sudut pojok ruangan yang sempit dan nyelip di sudut ruangan. Ruangan- nya, bukan seperti sebuah gedung yang memperlihatkan kesibukan dan mondar mandir pegawai, dosen dan mahasiswa, akan tetapi sebuah suasana hening di sudut ruangan kantor yang berjejal dengan jurnal cetak jaman dulu.

Pengelola jurnal itu ibarat debt collector. Selalu menagih artikel kepada orang yang sudah janji mau memasukkan artikelnya ke jurnal yang dikelolanya. Seorang debt collector yang tidak perlu berwajah seram dan kelihatan gempal badannya. Justru jauh dari pandangan yang menyeram- kan, aka tetapi selalu dihindari oleh dosen-dosen yang takut ditagih artikel.

Bagaimana mau memperhatikan body-nya, yang harus ke fitness center atau olahraga rutin yang bisa menjaga kebugaran. Sudah bisa masuk kantor seperti biasa sesuai dengan jamnya saja, sudah syukur, sudah bisa ngajar sesuai jadwal yang diberikan oleh jurusan dan tidak terlambat masuk saja sudah syukur. Yah, bagaimana tidak bersyukur? Lama-lama saya merasa lebih cantik laptop, dari pada istri.

Jadinya tidak mengherankan, jika jurnal ilmiah menjadi momok, yang tidak jauh berbeda dengan pengelolanya. Saya menjadi yakin, jika sudah menjadi pengelola jurnal, maka sampai pensiun akan tetap menjadi pengelola jurnal yang tidak tergantikan. Jika jurnal itu seperti momok, maka pengelola jurnal itu adalah mbahnya momok. Sudah debt collector, mbahnya momok pula. Makanya, jika melihat pengelola jurnal, itu adalah salah satu sosok yang unik. Mungkin sayalah salah satunya itu. Dengan sebutan momok, maka wajar rambutnya panjang berkuncir, sehingga menjadi satu-satunya dosen yang berambut panjang di kampus. Kata mahasiswanya, inilah dosen jaman now. Dan herannya, kok gak ada yang protes dan memberi teguran.

Sampai kemudian, tidak heran jika ada sebutan lain dari pengelola jurnal, yaitu ORIGINAL (Orang Gila Jurnal), atau bisa juga Orangnya yang gila atau jurnalnya yang gila?. Berharap sekali, para pengelola jurnal tidak sakit-sakitan karena yang dikerjakannya itu membantu orang dengan menaikkan sitasi dan mengunggah artikel secara online. Jadi, para pengelola jurnal itu perlu tetap menjaga badan agar fit, selain asupan gizi yang pas, juga pola hidup yang teratur dan berolahraga. Semuanya untuk keseimbangan demi giatkan publikasi! Selamat berefleksi para pengelola jurnal.

 

Gejolak Jiwa Pengelola Jurnal

Post navigation