Pengelola jurnal merupakan suatu tugas yang awalnya bagi saya merupakan sebuah “beban” yang kemudian berubah jadi suatu “hobi”. Ketika program studi sudah memiliki jurnal ilmiah versi online. Maka terkait pengelolaan jurnal via OJS adalah tanggung jawab saya sepenuhnya. Pertama kali mengikuti pelatihan tentang OJS, yang dirasakan ialah “bingung, cenat cenut, ini apa ya?” Hal ini dikarenakan secara  keterampilan  terkait  IT,  saya  kurang  menguasai  alias  gaptek. Namun karena ini adalah tanggung jawab, maka mau tidak mau saya harus belajar.

Alhamdulillah di kampus saya ada lembaga pusat penerbitan dan pengelolaan jurnal, yang sering mengadakan pelatihan atau workshop terkait pengelolaan jurnal. Saya bertekad “saya harus belajar dan harus bisa”. Maka di berbagai kegiatan yang diadakan tentang jurnal, saya berusaha untuk mengikuti. Saya juga bersyukur memiliki teman sesama pengelola jurnal, yang banyak memberikan ilmu terkait penjurnalan. Alhamdulillah sedikit demi sedikit pengetahuan saya menjadi bertambah.

Ilmu yang bertambah membuat saya berpikir bagaimana dengan membuat jurnal ini bisa terakreditasi. Ya itu sebuah harapan yang harus digapai. Tetapi apa jadinya jika harapan itu kurang didukung oleh semua pihak. Ketika saya membaca proses pengajuan akreditasi, ternyata banyak yang harus disiapkan. Misal terkait jurnal yang isinya harus ada naskah dari luar dengan persentase sekian. Itu menjadi sebuah tantangan bagi jurnal kami, karena di periode awal terbitan kami semua naskah yang ada berasal dari dalam prodi kami sendiri. Walaupun pada rapat prodi pernah membahas terkait kemajuan jurnal, namun pada faktanya komitmen untuk bersama memajukan jurnal itu susah untuk diwujudkan. Hanya orang-orang tertentu saja yang mau berkomitmen untuk hal itu.

Seiring berjalannya waktu dengan semakin gencarnya promosi jurnal kami. Alhamdulillah naskah dari luar ada yang submit di tempat kami. Namun hal itu belum cukup, karena naskah dari luar tersebut tidak mencapai persentase yang ditetapkan dalam pengajuan akredtasi jurnal nasional. Inilah yang menjadi masalah berat kami. Karena ketika penulis dari luar mau publikasi ditempat kami, pastilah mereka akan mengunjungi laman jurnal kami dulu, sebaik apa kualitas jurnal yang kami miliki, sudah terindeks apa saja. Ya itulah nasib jurnal kami, yang mungkin juga dirasakan oleh pengelola jurnal lainnya yang masih pemula. Betapa susahnya mencari penulis dari luar instansi. Selain hal itu, naskah dari penulis luar yang masuk pun terkadang kami bantu untuk merevisi agar kualitasnya menjadi lebih baik.

Misalnya ketika kami cek tingkat kemiripan naskah, ternyata persen- tasenya melebihi batas yang ditetapkan. Bahkan dua atau tiga kali penulis tersebut merevisi, ketika di cek masih belum mencapai batas yang ditetapkan. Adapula yang sudah pada tahap review ternyata membatalkan publikasi di jurnal kami, adapula yang submit namun tidak sesuai template. Padahal template penulisan sudah tersedia. Tetapi kami bersyukur ada yang mau submit di jurnal kami.

Terkait indeksasi nasional maupun internasional. Hal itu juga menjadi kendala bagi kami. Bisa dibilang jurnal kami masih tertinggal. Terkadang ketika melihat jurnal lain itu keren indeksasinya, rasanya itu minder untuk mempromosikan jurnal sendiri. Ya ini tugas kami, agar jurnal kami bisa terindeks di lembaga pengindeks nasional maupun internasional. Tata kelola jurnal yang membingungkan menuntut saya harus terus belajar dan belajar. Tugas pengelola jurnal sekaligus sebagai dosen dengan tuntutan Tri Dharma Perguruan Tinggi, terkadang membuat fokus saya untuk memajukan jurnal teralihkan. Maka disinilah saya harus bisa mengatur waktu dengan baik.

Di samping itu, diperlukan tim jurnal yang kompak untuk saling mengingatkan. Namun pada faktanya yang menjalankan pengelolaan jurnal ini saya hanya dibantu oleh satu rekan saya, yang sebagian besar tentang kebijakan jurnal saya yang harus memikirkan. Semoga kedepannya kesejahteraan pengelola jurnal semakin diperhatikan dan lebih baik lagi. Sehingga tidak hanya, ketika proses editing dan publish saja baru mendapatkan honor, tetapi semoga tiap bulannya juga dapat. Namun apapun yang diterima hingga saat ini alhamdulillah disyukuri.

Di balik beberapa kendala yang dimiliki oleh jurnal kami, khususnya saya sebagai pengelola jurnal ini tetap bersyukur. Karena dengan tugas dan tanggung jawab yang saat ini, membuat saya mengerti tentang bagaimana cara membuat artikel ilmiah, cara mengirimkan naskah jurnal, dan memiliki banyak teman di luar program studi/luar instansi sehingga semakin menambah silaturahmi. Semoga dengan bergabungnya saya di RJI, saya bisa menimba ilmu sebanyak-banyaknya, menambah wawasan terkait tata kelola jurnal dan berbagi pengalaman dengan pengelola jurnal lainnya. Semoga jurnal-jurnal yang di Indonesia pada umumnya, termasuk jurnal kami khususnya, semakin baik kualitasnya. Berbagi, giatkan publikasi, maju terus jurnal Indonesia.

 

Rasa Nano-nano Mengelola Jurnal

Post navigation