ID. 113-20032018-223715-084-01

Pertama kali saya tahu dan mendengar OJS pada saat ingin membuat jurnal di jurusan. Semula saya pikir, OJS seperti semacam rangkaian program aplikasi yang dibuat oleh tim IT kampus. Ternyata aplikasi ini dibuat untuk memuat artikel-artikel dalam suatu jurnal yang kemudian diunggah layaknya mengunggah foto atau data lainnya. Pemahaman ini karena ketidaktahuan saya tentang IT, hosting, blog, wordpress, dan sebagainya.

Maka hari itu, saya memutuskan pergi ke Fakultas Teknologi Informasi yang ada di dalam kampus. Saya meminta mereka membuat desain dan program terkait jurnal yang ingin saya bangun. Sebelumnya sudah saya siapkan outline khusus yang akan diisi di dalam program tersebut. Termasuk di dalamnya editorial tim, publication ethic, author guidelines, dan sebagainya. Semua saya siapkan dalam satu folder berformat MS Office. Sesampainya di sana, para staf IT tidak bisa membuat karena tidak paham maksud saya. Mereka justru menyarankan saya untuk ke Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM). Pada saat itulah rasa  penasaran  saya  mulai  meningkat.  Setelah  sampai  di  LPPM,  saya bertemu dengan tim IT dan dibuatkan account sebagai journal manager. Pada saat itu, kondisi jurnal di kampus saya memang sedang mati suri dan hanya dua jurnal yang masih hidup.

Mulailah saya coba membuka-buka alamat jurnal yang sudah dibuatkan oleh LPPM. Lagi-lagi saya buta akan OJS. Saya mulai donwload berbagai macam materi tentang OJS 2, melihat youtube, serta membaca beberapa  artikel  di  internet.  Hingga  saya  menemukan  website  RJI.  Saya mencoba memulai sendiri dengan beberapa panduan yang saya dapat. Akan tetapi tidak maksimal. Pencerahan pun datang ketika mendapat informasi pelatihan OJS oleh tim RJI di kota saya.

Kesan pertama pada RJI adalah solid dan gigih dalam mengembangkan dan menyebarluaskan pengetahuan tetang OJS. Begitu sabar kepada para pengelola jurnal seperti saya. Tidak hanya itu, pendampingan pun terus berjalan walaupun di luar acara. Sering saya main ke tutor RJI terdekat atau berkirim pesan melalui WhatsApp secara pribadi untuk mendapat pencerahan. Terutama ketika menemukan beberapa kendala dalam pengelolaan jurnal secara online.

Singkat cerita, mulai terbangunlah pemahaman saya tentang OJS. Pertama, saya siapkan theme, home, dan berbagai perangkat yang ada di dalamnya. Kami mulai memuat artikel yang berasal dari dalam fakultas. Kami mencoba mengelola jurnal seperfect mungkin. Namun, memang benar kata orang-orang, ‘Membangun jurnal itu berdarah-darah di awal’. Benar, jurnal yang sudah saya bangun, berasa seperti anak sendiri. Setiap hari rasanya wajib untuk dikunjungi.

Hal yang tidak kalah penting bahwa psikologi pengunjung juga menentukan keberhasilan pengelolaan jurnal. Ketika mereka membuka dan membaca artikel di jurnal yang saya kelola, bagian yang terpenting adalah kesan mereka. Akhirnya, dengan keterbatasan keterampilan dalam bidang design grafis, saya mencoba menyajikan tampilan sedetail dan seindah mungkin. Terutama dalam hal layout. Layout artikel sangatlah penting karena dianggap sebagai salah satu indikator keberhasilan pengelolaan jurnal. Maka kurang lebih selama tiga bulan, pagi siang malam saya menyempatkan waktu untuk menggodok template jurnal yang akan disajikan. Membuat layout jurnal seperti meramu obat. Saya berusaha mencari dan mencari serta membuka berbagai jurnal untuk mendapatkan layout khas sendiri dan berbeda dengan jurnal lain. Hal ini penting karena dianggap sebagai sebuah identitas. Perjuangan berupa tenaga, waktu, pikiran, dan dana yang sudah dikeluarkan seolah terbayar dengan desain jurnal yang apik.

“Journal is my passion”, itu benar adanya. Di saat banyak orang mengejar-ngejar publikasi jurnal untuk berbagai macam tujuan, di belakang layar para pengelola jurnal hidup mati memberikan pelayanan kepada mereka. Tidak sedikit cercaan, pressure, dan hinaan yang katanya “Jurnal kok masih kosong” hingga “Jurnal tidak terindeks saja sok susah”. Dalam hal ini, perlu kedewasaan seorang tim untuk tidak terpancing. Maka benar pernyataan “pengelola jurnal itu gila”. Gila dalam hal ini bukan berarti tidak memiliki akal, tetapi lebih karena mereka bekerja dengan keras untuk kebahagiaan orang lain. Sama dengan saya. Ketika artikel itu lolos dan diterima serta muncul di web jurnal, maka betapa bahagia saya ketika itu. Itulah kepuasaan mengelola sebuah jurnal. Pada saat itu, lembaga yang mendapat amanat untuk mengembangkan jurnal, justru lebih tertarik pada penelitian dan pengabdian. Bisa jadi karena hal itu dianggap lebih ‘basah’. Walaupun demikian, pegiat jurnal selalu memperjuangkan eksistensinya.

Semakin banyak belajar, semakin banyak pula yang diperoleh. Ternyata tidak hanya keterampilan OJS, tetapi juga keluarga. Ya, keluarga baru. Keluarga seperjuangan. Dalam suka maupun duka, tetap penuh canda dan tawa. Keluarga yang tidak serumah, tetapi tidak pernah sepi. Satu visi dan misi. “Berbagi giatkan publikasi” itulah keluarga besar Relawan Jurnal Indonesia.

*Penulis adalah peserta TOT Relawan Jurnal Indonesia
Akhirnya Aku Menemukanmu

Post navigation