
Jakarta, 17 Juli 2026 Relawan Jurnal Indonesia (RJI) menggelar International Symposium of Editors and Editorial Development yang dirangkaikan dengan Peringatan Satu Dekade RJI dan Musyawarah Nasional (Munas) IV, berlangsung pada 17–18 Juli 2026 di Hotel Grand Whiz Poins Simatupang, Jakarta. Simposium ini menghadirkan sederet pembicara nasional maupun internasional yang membahas isu integritas riset, tata kelola biaya publikasi, hingga masa depan ekosistem jurnal ilmiah dari perspektif negara Global South.
Pada sesi Plenary Session I bertajuk “Research Integrity & Diamond OA Governance” , Sekretaris Direktorat Jenderal Sains dan Teknologi Kemendiktisaintek, Dr. M. Samsuri, S.Pd., M.T., IPU., menegaskan bahwa pertumbuhan jurnal ilmiah nasional di Indonesia yang kini mendekati 30.000 judul terdaftar di Sinta, dengan 15.400 di antaranya telah terakreditasi, belum diikuti oleh peningkatan kualitas yang sepadan. Ia mencontohkan, dari puluhan ribu jurnal tersebut, baru tiga jurnal bidang sains dan teknologi (STEM) yang berhasil menembus kuartil pertama (Q1) di tingkat global. “Titik tekan kita bukan banyak-banyaknya jurnal, tetapi banyaknya jurnal yang berkualitas dan bermutu,” ujarnya.
Untuk menjawab persoalan tersebut, pemerintah menerbitkan Permendiktisaintek Nomor 9 Tahun 2026 tentang Akreditasi Jurnal Ilmiah, menggantikan aturan lama yang telah berlaku sejak 2018. Samsuri menjelaskan, kebijakan baru ini menggeser fokus dari sekadar “akreditasi” menjadi “penjaminan mutu”, dengan sejumlah perubahan mendasar yaitu jurnal yang telah terindeks Scopus Q1 tidak lagi otomatis memperoleh status Sinta 1 dan tetap wajib melalui proses akreditasi kemudian peringkat jurnal disederhanakan dari enam menjadi empat tingkat dengan skor minimum kelulusan yang dinaikkan serta diberlakukannya mekanisme tindakan korektif berupa teguran tertulis, penurunan peringkat, pembekuan sementara, hingga pencabutan status akreditasi bagi jurnal yang terbukti melanggar integritas akademik.
Kemudian Ketua Umum Relawan Jurnal Indonesia, Dr. Arbain, M.Pd., yang turut menjadi pembicara dalam sesi ini, menyampaikan bahwa model Diamond Open Access merupakan pendekatan yang direkomendasikan UNESCO untuk mewujudkan sistem publikasi ilmiah yang lebih adil dan inklusif. “Penulis tidak harus membayar kepada jurnal. Seluruh biaya operasional ditanggung oleh perguruan tinggi atau komunitas akademik sehingga memberikan akses yang lebih adil bagi seluruh peneliti,” ujarnya.
Arbain menyoroti disparitas biaya Article Processing Charge (APC) yang masih terjadi di berbagai jurnal saat ini, dan kerap menyulitkan dosen maupun peneliti dalam mempublikasikan hasil riset mereka. Ia mengungkapkan, data RJI mencatat sudah ada sekitar 1.206 jurnal di Indonesia yang tidak lagi menerapkan biaya APC bagi penulis, dan berharap kebijakan pemerintah ke depan dapat mendorong lebih banyak jurnal nasional mengadopsi sistem serupa sekaligus meningkatkan daya saingnya di kancah internasional.
Sesi Plenary I turut menghadirkan Hendro Subagyo, M.Eng. (Direktur Repositori Multimedia dan Penerbitan Ilmiah BRIN), David Oliva Uribe (Senior Consultant for UNESCO), Dr. Lidia Borrell-Damián (Secretary General of Science Europe), serta Prof. Dr. Juneman Abraham, S.Psi., M.Si. (Guru Besar Binus University), yang memberikan perspektif lintas negara mengenai penguatan integritas riset dan tata kelola akses terbuka.
Setelah itu, simposium dilanjutkan dengan Plenary Session II bertema “Global South Perspective”. Sesi ini menghadirkan Prof. Arianna Becerril-García (Executive Director and Co-founder of Redalyc), Dr. Sridhar Gutam (Principal Scientist of ICAR-Indian Institute of Horticultural Research), Prof. Dr. Muhammad Nur Rianto Al Arif, S.E., M.Si. (Wakil Ketua Himpunan Editor Berkala Ilmiah Indonesia), Dr. Dasapta Erwin Irawan (Open Science Indonesia), serta Ikhwan Arief, S.T., M.Sc. (Managing Editor Directory of Open Access Journals).
Melalui sesi ini, para pembicara membahas bagaimana negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, dapat memperkuat posisi tawar dalam ekosistem publikasi ilmiah global yang selama ini didominasi model bisnis dari negara maju, sekaligus mendorong kolaborasi riset yang lebih inklusif antarnegara Global South.
Melalui rangkaian simposium ini, RJI berharap dapat memperluas wawasan para pengelola jurnal mengenai praktik tata kelola terbaik, memperkuat jejaring kolaborasi lintas lembaga dan negara, serta mendorong lahirnya kebijakan yang lebih berpihak pada penulis dan pembaca di lingkungan akademik Indonesia.
Berbagi Giatkan Publikasi !!
Website: relawanjurnal.id
Tiktok: relawanjurnal.id
Instagram: relawanjurnal_id
Facebook: Relawan Jurnal Indonesia
YouTube: Channel RJI
WhatsApp: 08170240689
Twitter: relawanjurnalid
PSPI: pusatstudi_rji
Supervisi : supervisi_jurnal_rji
LSP : lsp_pie
RJI, Berbagi Giatkan Publikasi
Website: relawanjurnal.id
Tiktok: relawanjurnal.id
Instagram: relawanjurnal_id
Facebook: Relawan Jurnal Indonesia
YouTube: Channel RJI
WhatsApp: 08170240689
Twitter: relawanjurnalid
PSPI: pusatstudi_rji
Supervisi : supervisi_jurnal_rji
LSP : lsp_pie



