Awal mula mengenal jurnal adalah setahun setelah menjadi dosen di kampus saya. Pada tahun 2011, saya memulai kiprah menjadi pengajar di salah satu universitas swasta di Jawa Tengah. Di kampus kami sudah ada pengelola jurnal universitas, yaitu seorang pustakawan. Awalnya saya hanya sebagai penulis di jurnal tersebut. Hal ini karena salah satu tugas pengajar adalah melakukan publikasi ilmiah. Pada tahun 2012, fakultas teknik mulai merintis jurnal yang sekarang masih saya kelola. Saat itu, dekan meminta saya menjadi redaksi jurnal tersebut. Semua dimulai dengan studi banding ke universitas lain.

Saya belum memiliki dasar dalam pengelolaan jurnal, tetapi keinginan dan kemauan untuk belajar sangat besar. Jurnal yang saya kelola sudah menggunakan OJS, tetapi masih menggunakan surel dan belum OJS penuh. Submit naskah sampai proses review dilakukan melalui surel. Baru setelah beres, di-upload di OJS. Senang rasanya ketika ada artikel yang masuk karena jurnal kami belum banyak dikenal. Apalagi indeksasi juga belum ada. Untuk mendapat artikel, kadang saya menghubungi teman waktu kuliah. Selain itu, setiap mengikuti acara di luar kampus, saya selalu menawarkan untuk submit di jurnal yang saya kelola. Sepuluh artikel akhirnya ter-publish sesuai jadwal, yakni di bulan April 2012. Edisi demi edisi, artikel kami mulai bertambah. Penulis juga sudah dari luar kampus kami. Hal ini menumbuhkan rasa kepuasan di hati saya.

Ada cerita yang mungkin juga dialami teman-teman lain. Pada tahun 2013, terjadi pergantian pimpinan di fakultas. Selama ini, tim redaksi dipilih oleh fakultas. Saat itu, saya menemui dekan. Kepada dekan saya berkata, “Saya boleh dicoret dari SK apa pun, namun jangan untuk SK sebagai pengelola jurnal”. Mungkin dianggap lebai atau bagaimana, tetapi mengelola jurnal merupakan passion saya. Meskipun jika dibandingkan dengan kepanitiaan yang lain, imbalan atau honor mengelola jurnal paling sedikit. Bahkan kadang tidak ada. Namun, saya merasa puas dan tidak ternilai harganya jika mendapat artikel dan dapat mem-publish-nya. Saat itu, mungkin belum ada RJI (Relawan Jurnal Indonesia). Jadi, saya dalam mengelola jurnal masih standar.

Di titik nyaman inilah pada tahun 2015, saya merasa lengah. Mengelola jurnal dengan apa adanya. Saat itu, jurnal kami yang paling produktif. Penulis dari luar kampus  mencapai 70%. Sementara, jurnal universitas mati suri karena pengelolanya yang tidak mau tahu sehingga tidak ada artikel yang masuk. Saya sempat merasa bosan karena tidak ada saingan di kampus. Jadi, saya berjalan apa adanya dan tidak memikirkan indeksasi apalagi akreditasi. Sampai akhirnya program studi lain membuat jurnal baru. Lama-lama, jurnal tersebut semakin bagus. Di sinilah saya merasa mengalami kemunduran dalam mengelola jurnal. Saya melihat jurnal prodi lain tersebut terindeks di beberapa pengindeks. Saya mulai mengejar ketinggalan itu. Saya mulai mendaftar ke berbagai pengindeks, baik yang ada di dalam maupun luar Indonesia. Dengan semangat untuk maju karena ada rival (meskipun satu universitas), saya mengubah tampilan jurnal sesuai dengan warna fakultas kami. Pada tahun 2016, saya mendaftar di ARJUNA karena ada edaran untuk akreditasi jurnal. Nah, di sini saya tidak semangat lagi dalam mengelola jurnal. Hal ini karena ketidaktahuan saya tentang akreditasi jurnal. Saya terkendala oleh pekerjaan kampus yang menumpuk. Saat itu, saya sudah mengisi formulir di ARJUNA. Saya mendapat informasi bahwa syarat untuk akreditasi, jurnal harus terindeks DOAJ (walaupun kemudian saya mengetahui bahwa info itu ternyata tidak benar). Di situlah saya merasa ya sudahlah yang penting jurnal jalan, terbit sesuai jadwal serta penulis dari luar banyak.

Seiring berjalannya waktu, saya berpikir kembali mengapa tidak mengurus DOAJ?! Saat itulah semangat kembali membara karena jurnal prodi sebelah sudah mengajukan DOAJ. Keadaan ini didukung juga dengan pelatihan yang diadakan oleh RJI di Semarang. Di sana barulah terbuka wawasan saya bahwa ternyata jurnal tidak hanya menerima artikel, me- review, editing, dan publish. Untuk menarik penulis, dapat dilakukan dengan indeksasi seperti DOAJ. Jurnal sebelah sudah keluar DOAJ-nya hanya dalam waktu tiga bulan. Pada saat workshop, saya bertemu dengan teman-teman yang menyenangkan dan tidak pelit ilmu. Sepulang dari workshop akreditasi dan indeksasi pada tanggal 4 Februari 2017 di hotel Gracia Semarang, kami mulai menyusun keperluan pengajuan ke DOAJ. Kami dag dig dug menunggu hasil dari DOAJ. Akhirnya pada tanggal 7 Agustus 2017, DOAJ jurnal kami accepted.

Efek dari ketidaktahuan tentang ARJUNA (Akreditasi Jurnal Nasional) mengakibatkan jurnal kami belum terindeks di SINTA. Penyesalan selalu datang di akhir, tetapi saya tidak putus asa untuk selalu sabar menanti terindeks SINTA.

Lima tahun saya bersama jurnal. Semangat yang maju mundur dalam mengelola, membuat saya termotivasi agar dapat menjadi pengelola jurnal yang lebih baik lagi. Tetap ramah kepada penulis, fast respons dan memberi informasi yang jelas. Itulah yang dibutuhkan oleh penulis. Meskipun terkadang penulis membuat kita ‘gregeten’. Ada yang bilang “ribet amat buat masuk jurnal, harus revisi terus”. Intinya, tetap ‘cantik’ dalam menghadapi penulis yang unik.

Maju Mundur Cantik dalam Mengelola Jurnal

Post navigation