Sesungguhnya saya belum pada posisi bangga menceritakan tentang jurnal kami. Jurnal ini telah ada sejak tahun 2003. Namun, tidak ada perkembangan yang nyata sesuai dengan umurnya. Jurnal kami dikelola seadanya. Jurnal ini seolah tidak dianggap meski telah banyak berjasa melahirkan lektor kepala di kampus kami. Kenaikan jabatan fungsional dosen hingga lektor kepala kala itu masih bisa dengan pengumpulan-pengumpulan angka kredit dari artikel di jurnal yang hanya ber-ISSN.

Keterlibatan saya dalam pengelolaan jurnal di kampus dimulai sejak tahun 2007. Namun saat itu saya belum terlalu paham tentang dunia penjurnalan. Saya juga belum banyak paham tentang menulis ilmiah di jurnal. Saya baru dua tahun menjadi dosen saat itu. Ternyata pemahaman tentang menulis artikel ilmiah di jurnal sangat penting bagi seorang pengelola jurnal atau yang sering disebut editor. Saat itu saya dilibatkan sebagai anggota redaksi pelaksana.

Saya diberi tugas sebagai ketua redaksi pada tahun 2011. Pada saat ini saya mulai perbaiki pelan-pelan pengelolaan jurnal tersebut. Sumber artikel sebelumnya hanya berasal dari internal fakultas. Saya mulai mengirimkan jurnal kami ke berbagai kampus baik di wilayah provinsi kami maupun nasional. Namun jumlah kampus yang dapat dikirimi jurnal hanya sedikit karena kami hanya mampu mencetak 40 eksemplar setiap nomor. Jurnal hanya mendapat Rp. 2.500.000,- dari kampus. Kami tidak mengambil biaya cetak pada penulis internal padahal penulis di jurnal sebagian besar adalah penulis internal. Uang sebesar Rp. 2.500.000, tersebut dibagi-bagi untuk operasional, biaya cetak, ongkos kirim dan lain- lain. Kami memang sempat mencoba membuat kebijakan untuk mengambil biaya cetak dari penulis eksternal setelah mulai ada beberapa penulis eksternal. Itu juga tidak besar, hanya Rp. 100.000,-. Jumlah penulis eksternal saat itu hanya 1 atau 2 orang karena belum banyak yang tahu tentang jurnal ini.

Pada saat itu saya mulai memikirkan suatu media penyimpanan secara online agar mudah dibagi ke penjuru Indonesia. Saya belum kenal dengan OJS dan memang belum ada kebijakan Dirjen Dikti mengenai penggunaan OJS saat itu. Saya membuat website sederhana menggunakan Joomla. Saya bukan orang IT sehingga saya harus belajar dulu lewat artikel-artikel, buku-buku dan tutorial yang ada di internet. Saya membutuhkan waktu 1 bulan untuk menyelesaikannya. Setelah itu, saya upload semua nomor jurnal yang sudah pernah dipublikasi dan setiap publikasi berikutnya akan kami upload di website tersebut. Para penulis kami sangat terbantu dengan adanya media tersebut karena saat itu mulai ada kebijakan Dirjen Dikti tentang keharusan akses online setiap artikel yang akan dinilai angka kreditnya. Para penulis kami sudah bisa memberi link artikelnya sebagai syarat untuk dinilai baik dalam pengusulan angka kredit jabatan fungsional maupun untuk laporan kinerja dosen (tunjangan sertifikasi dosen). Website tersebut saya buat secara inisiatif, saya kerjakan sendiri dan bersifat sukarela. Saya tidak mengajukan biaya apapun dan tidak mengambilnya dari uang operasional jurnal yang terbatas tersebut.

Saya melanjutkan studi pada tahun 2013. Saya menyerahkan pengelolaan jurnal ke fakultas agar ditunjuk tim redaksi baru pada tahun 2014. Pada saat ini jurnal sudah mulai diisi oleh penulis dari berbagai kampus dan berbagai daerah. Jurnal sudah punya website. Harapan saya berikut- nya adalah perbaikan proses penerbitan. Ini yang masih terus saya tekankan pada tim pengelola saat ini. Meskipun saya tidak lagi menjadi tim editor jurnal, namun keterlibatan saya tetap ada sejak ganti kepengurusan hingga saat ini.

OJS mulai ramai digunakan di Indonesia pada tiga tahun yang lalu. Saya mencoba mempelajari mulai dari instalasi hingga settingnya. Saya bertemu secara maya dengan para relawan RJI yang membantu saya memahami banyak hal tentang OJS. Pengetahuan saya tentang IT juga tidak ada. Saya terus mempelajarinya. Saya buat OJS untuk jurnal kami. Saya perkenalkan ke kampus. Saya berikan dengan free OJS yang sudah terinstal tersebut untuk digunakan oleh pengelola jurnal, bahkan saya hubungi semua pengelola jurnal se-kampus saya untuk masuk di dalam OJS tersebut. Saya buatkan akun jurnal mereka. Saya berbagi pengetahuan tentang pengelolaan jurnal berbasis OJS tersebut kepada para pengelola jurnal se-kampus dan juga pada para penulis yang ada di fakultas saya.

Saya menemukan beberapa pengelola jurnal yang punya semangat yang sama dengan saya dan saya juga menemukan yang tidak terlalu bersemangat. Saya melatih dan meminta mereka untuk setting OJS jurnal mereka karena saya tidak punya waktu banyak. Saya harus konsentrasi juga dengan studi saya. Saya tetap menekankan untuk terus dilakukan perbaikan-perbaikan proses penerbitan diantaranya pemaksimalan fungsi editing dan penelaahan (peer-review) agar dihasilkan artikel yang berkualitas. Saya memprovokasi semua pengelola agar memiliki target akreditasi.

Sembari memberi masukan-masukan agar terus dilakukan peningkatan kualitas proses penerbitan. Saya mengajak para pengelola jurnal yang ada  di  kampus  untuk  memiliki  DOI  (Digital  Object  Identifier),  sebuah nomor identifikasi unik yang merupakan nilai tambah dalam pengusulan indeksasi SINTA dan akreditasi. Kami mulai mengusulkan kepada pimpinan namun tidak ada respons yang memuaskan sehingga sampai saat  ini  kami  belum  memiliki  DOI.  Padahal  kami  sudah  memberikan informasi tentang status RJI yang saat ini menjadi mitra Crossref sehingga biaya hanya Rp. 500.000,-. Sebenarnya sudah beberapa kali bertemu pimpinan tertinggi kampus untuk membicarakan tentang pengelolaan jurnal ini, namun tidak saya ceritakan di atas karena keterbatasan jumlah kalimat dalam tulisan ini hehe.

Kalau tidak karena passion, mengelola jurnal dengan kondisi dianggap tidak ada dan tidak relevan itu berat. Oleh karena itu jangan hanya Dilan yang memikirkannya, saya juga ingin ikut memikirkannya, mengerjakannya dan berbagi untuk giatkan publikasi.

Dianggap tidak Ada dan Tidak Relevan, Namun Banyak Berjasa

Post navigation