ID. 092-27022018-111527-071-01


Pengalaman saya dalam mengelola jurnal sejak tahun 2014 hingga sekarang, yang semula masih bentuk jurnal cetak dan bertransisi kepada bentuk jurnal elektronik. Pada masa transisi ini banyak sekali ketidaktahuan saya tentang mengelola jurnal yang baik dan benar dan masih meraba-raba. Pada masa transisi ini pimpinan masih belum mengetahui seperti apa itu OJS , dan saya memberitahu seperti apa OJS dan harus bagaimana (masih dalam menerka-nerka), namun pimpinan masih belum percaya kalau jurnal itu harus online dan seiring berjalannya waktu pimpinan mulai menyadari dan tahu bahwa jurnal itu harus online. Saat itu online yang dimaksud adalah hanya tampil dalam web saja, bukan dalam bentuk OJS.

Setelah tahu bahwa maksud dari online itu adalah menggunakan OJS, maka kami pun selaku pengelola jurnal ditugaskan untuk mencari tahu lebih dalam lagi apa itu OJS, singkat cerita pada tahun 2017 kami mendapat undangan untuk mengikuti pelatihan OJS di salah satu kampus di Yogyakarta, dan kami banyak sekali ilmu yang di dapat meski belum sepenuhnya mengerti, namun sudah ada pencerahan mengenai pengelolaan jurnal, setelah pulang pelatihan tersebut kami sebagai pengelola jurnal mulai menggunakan OJS meski masih berantakan dan belum tertata dengan rapi, kami pun melakukan pelatihan kembali di internal kampus dengan mengundang tutor yang terlatih dalam mengelola jurnal, setelah pelatihan di internal kami pun mulai makin mengetahui cara kerja OJS sepeti apa.

Namun ketika di pertengahan jalan dan sedang semangat-semangatnya dalam mengelola terjadi musibah seluruh jurnal di kampus kami hilang semua karena di-hack oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab, dan bukan hanya jurnal tetapi seluruh induk web kampus kami pun kena, dan kami pun kena imbas dimarahi oleh pimpinan dan disalahkan karena setelah dilacak orang yang meng-hack itu masuk melalui OJS, dengan alasan penjelasan dari pihak IT kampus, dengan adanya kejadian itupun kami vakum selama beberapa bulan karena pengelola sudah tidak semangat kembali untuk mengelola karena sudah kerja keras tiba-tiba terjadi seperti itu, namun dengan lapang dada kami menerima kejadian itu sebagai pelajaran dalam mengelola jurnal, meski hati kecil kesal.

Di awal 2018 kami pun melakukan pelatihan kembali agar lebih matang dalam mengelola jurnal dengan memanggil narasumber yang sama, jurnal kami pun dibedah kembali apa saja kekurangannya, dan ternyata masih banyak kekurangan. Dan kejadian dalam mengelola jurnal bukan hanya pada sistem OJS saja tetapi ada kejadian dimana pengelola kena imbas marah penulis karena tidak mau dikoreksi naskahnya dan menyangka pengelola mengkoreksi substansi isi naskah, padahal pengelola hanya memberikan komentar mengenai sistematika penulisan yang sesuai dengan pedoman, dan kejadian ini bukan hanya satu kali, dan banhkan ada penulis yang tidak mengirimkan kembali naskahnya pasca telah di koreksi mengenai sistematika.

Mungkin dari kesimpulan yang saya dapat selaku pengelola jurnal masih banyak sekali kekurangan baik pengelola, penulis, editor, dan reviewer yang belum memahami sepenuh nya apa itu jurnal online, dan bagaimana pengoperasiannya, dan yang paling sulit itu ketika ada penulis yang tidak mau mengkoreksi dan mengrus naskah dari internal, karena naskah dari internal pengennya dipermudah dalam penerbitanya tidak mau di persulit dan itu membuat pengelola kadang-kadang kesal meng- hadapi penulis yang seperti itu.

*Penulis adalah peserta TOT Relawan Jurnal Indonesia
Jatuh Bangun dengan OJS

Post navigation