ID. 110-18032018-201437-083-01


Pada tahun 2015, saya mengawali karir sebagai pejabat struktural Departemen Sistem dan Teknologi Informasi dengan membenahi infrastruktur teknologi informasi di kampus. Di antara banyak aplikasi web yang saya rawat di kampus, OJS termasuk yang cukup rumit. Awalnya OJS terasa agak lambat responnya. Berbekal pengalaman saya pada saat mengerjakan proyek di sebuah instansi, saya mengganti perangkat lunak pendukung OJS dengan yang lebih hemat sumber daya komputasi serta dapat menangani volume request lebih besar. Saat itu saya masih belum memahami benar cara mengoperasikan OJS. Fokus saya waktu itu adalah bagaimana penggantian perangkat lunak pendukung ini tidak menyebabkan fitur-fitur dalam OJS menjadi tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Beberapa kawan sesama sysadmin mengatakan bahwa OJS sering dijadikan ‘tempat bermain dan belajar’ keamanan aplikasi web.

Ketika OJS versi mayor 3 dirilis, ada wacana untuk meng-upgrade versi OJS yang saat itu masih versi mayor 2 ke versi mayor 3. Pro dan kontra saya terima dari berbagai pihak, termasuk informasi bahwa pengelolaan jurnal elektronik oleh lembaga terkait masih belum tertata rapi. Atasan saya juga mendukung keputusan untuk meng-upgrade versi OJS dengan berbagai pertimbangan. Dengan berhati-hati saya upgrade instalasi OJS yang ada. Saya mengalami lima kali kegagalan pada saat upgrade. Saya memilih cara upgrade yang tidak biasa demi kemudahan patching celah keamanan di kemudian hari, yaitu dengan meng-clone repositori OJS dari Github kemudian meng-install pustaka-pustaka yang diperlukan mengunakan dependency manager PHP. Jadi, jika ada patching celah keamanan baru dari Github, saya cukup menjalankan git pull saja.

Banyak komplain yang saya terima dari sejawat dosen di kampus terkait OJS. Mulai dari web yang tidak dapat diakses sama sekali (karena mati listrik atau kabel ethernet yang tercabut tanpa sengaja), hingga bagian- bagian tertentu yang tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Contohnya adalah ketika journal manager ingin mengkonfigurasi tampilan jurnal, menunya tidak bisa diklik. Hal semacam ini memaksa saya untuk membuka developer console di browser untuk mengetahui pesan error apa yang muncul. Pesan error tersebut saya cari di Google dan saya tidak menemukan hasil yang saya inginkan. Untungnya insting sysadmin saya masih cukup tajam. Saya memperkirakan` bahwa ada kesalahan konfigurasi OJS yang tersimpan di database yang harus diganti secara manual karena antarmuka web tidak berfungsi. Perkiraan tersebut benar dan masalah beres.

Suatu hari saya diajak salah satu dosen di kampus untuk mengikuti Training  RJI.  Bapak  dosen  ini  berpendapat  bahwa  RJI  membutuhkan tenaga sysadmin seperti saya. Saya pikir, ini sangat sesuai dengan kebiasaan saya untuk membantu banyak orang dengan kemampuan sysadmin saya. Akhirnya, saya memutuskan untuk ikut dan mendaftar Training RJI 2018.

*Penulis adalah peserta TOT Relawan Jurnal Indonesia
Balada Sysadmin OJS

Post navigation