Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh.

Yang mau menjadi pengelola jurnal adalah “orang gila yang mencintai pekerjaannya”. Apa maksudnya? Tidak sedikit pengelola jurnal kampus  dituntut untuk menghasilkan terbitan jurnal yang bagus dan berkualitas, tetapi artikel yang masuk dalam pengelolaan sangat sedikit dan jika dilihat lagi, hanya beberapa orang saja yang senang menulis.

Pengelola jurnal sering mentertawakan dirinya sendiri, karena bekerja siang dan malam sampai larut malam dan pekerjaan dibawa pulang kerumah, melupakan anak-anak dan suami agar jurnal kampus dapat terbit. Semua itu hanya untuk menerbitkan sebuah jurnal yang isinya sekitar 10 artikel. Tapi kegilaan ini akhirnya dihargai oleh Relawan Jurnal Indonesia yang sengaja ingin menerbitkan curahan hati pengelola jurnal. Bagaikan gayung bersambut, hal ini dipakai untuk mencurahkan semua unek-unek, kekesalan dan sebagainya yang dihargai sebagai manusia pencinta tulis menulis.

Pada fakultas kami, pengelola jurnal dilakukan oleh para dosen-dosen tetap yang menurut dekan dan lainnya tidak punya kerja. “What is that?” Mereka pikir, dosen tetap datang ke kampus hanya duduk dan mengajar. Oh tidak. Banyak beban yang kami kerjakan, misalnya urusan administrasi, jadwal, urusan dinas keluar dan sebagainya. Disamping itu, kamipun mendapatkan pekerjaan bagus yaitu sebagai pengelola jurnal. Dan kami bangga akan hal ini, walaupun kebanggaan kami ini terkadang aneh, dan sering mentertawakan diri sendiri. Untuk finansial pengelola jurnal? Sebagai dosen tetap yang ditugaskan untuk mengelola jurnal, kami tidak mendapatkan tambahan khusus. Dari gaji yang diberikan, itulah semuanya. Lanjut…. !!

Anehnya, kebanggaan akan kegilaan kami ini walaupun ditertawakan tetapi dapat dimaklumi oleh orang-orang yang mencintai tulis menulis atau yang terpaksa harus menulis karya yang ilmilah. Penulis artikel ilmiah “biasanya” hanya mengirim artikel dalam bentuk mentahnya saja. Maksudnya? Para penulis hanya menulis tanpa melihat aturan yang kami berikan dalam setiap terbitan. Mereka menulis dan kami yang harus menyunting, mengoreksi dan sebaginya. Malahan jika ada jurnal yang sulit kami mengerti atau yang berbeda tema untuk terbitan, kami menghubungi penulisnya dan penulisnya marah-marah, karena banyak suntingan dan banyak koreksi dan sebagainya. Beberapa kali kami mendapatkan artikel yang 90%-98% plagiat, yang sebenarnya artikel tersebut berasal dari skripsi mahasiswa dan penulis tersebut bukan pembimbingnya, sehingga penulis tersebut mengubah nama mahasiswa menjadi namaya, dikarenakan kebutuhan harus menulis artikel.

Jika kondisi seperti itu, kami langsung cek dahulu plagiatnya. Karena skripsi mahasiswa yang diambilnya itu masih dalam lingkungan kampus kami, maka dengan mudah kami cek. Dan dari tulisan, huruf, titik dan koma sama semua. Bukankah ini plagiat? Waduuh…

Memberitahu pada penulis atau dosen tersebut adalah hal yang paling sulit, apalagi dosen tersebut dosen senior dan pengalamannya banyak sekali. Dan beliau tidak merasa bahwa hasil karyanya adalah plagiat, dan malah menuduh mahasiswa yang plagiat hasilnya? lho…

Dari hasil yang kami telusuri, menurut mahasiswa tersebut, itu memang karyanya, dia yang membuat skripsi tersebut dan dibimbing oleh seorang pembimbing. Dan kami cek pada pembimbingnya, dan mengatakan bahwa itu memang karya mahasiswa, karena dibuatnya di depan pembimbing itu. *tambah bingung*

Sehingga, apakah artikel itu dapat diterbitkan? Tentu tidak. Dan kami semua sebagai pengelola jurnal dari manajemen, editor, bebestarian yang “pasang badan” bahwa artikel tersebut tidak dapat diterbitkan. Mulailah permasalahan baru disini.

Untungnya, jurnal ditempat kami masih jurnal cetak, sehingga kalau jurnal kami sudah e-jurnal dan dosen tersebut tetap bersikukuh ingin menerbitkan, betapa bingungnya menghadapi pejabat kampus yang seperti ini. Kehebohan ini terus berlanjut sampai penerbitan selanjutnya.

Okay, itu kami membicarakan bagaimana artikel dikumpulkan dan diterbitkan serta kesulitan dan kebingungan kami. Sekarang lanjut pada pengelola jurnal yang berhubungan dengan atasan, baik dekan, pembantu rektor II, pihak manajemen kampus dan LPPM. LPPM kami memang ada, tetapi tidak berfungsi dan tidak bekerja. Setiap ada pengumuman dari Simlibtamas (Sistem Informasi Manajemen Penelitian dan Pengabdian Masyarakat) kami tidak pernah tahu dan tidak pernah di informasikan oleh LPPM kami. Jadi, jika ada dosen dari kampus lain mendapatkan kucuran dana dari DikTi ( Pendidikan Tinggi), kami hanya termenung. kesimpulannya, jurnal kami jalan sendiri sesuai dengan keputusan fakultas, keputusan universitas dan keputusan yayasan.

Kami bersyukur dapat bergabung dengan Relawan Jurnal Indonesia dan menjadi bagian pengurus RJI Korda Jakarta. Karena hal ini sangat menolong kami dalam mengelola jurnal.

Oh ya, apakah jurnal kami sudah OJS? Belum. Sama sekali belum, walaupun kami sudah berteriak bahwa jurnal cetak sudah tidak di akreditasi lagi sejak April, 2016. Bersyukurnya, dekan baru kami akan menggantikan jurnal cetak kami menjadi jurnal elektronik mulai semester depan. Ini adalah kemajuan luar biasa. Dan, software sudah dibeli, sehingga kami dapat sama dengan jurnal dari universitas lainnya. Untuk menuju DOAJ apapun itu namanya, kami belum berani bermimpi. Nanti jika sudah e-journal, baru kami akan bermimpi kesana.

Dalam mengelola jurnal, kami sangat konsisten, terbit 2 kali dalam setahun yaitu setiap bulan Juni dan bulan December. Satu lagi kami konsisten, kami selalu memuat 10 artikel setiap terbit, walaupun dengan susah payah meminta pada dosen-dosen untuk menulis. Terbitan jurnal cetak kami berukuran legal, glossy dan sesuai dengan peraturan Dikti.

Sekian curahan hati saya, semoga unek-unek ini dapat meringankan kami dalam menjalankan tugas mengelola jurnal kampus. Akhir kata, semoga jurnal akademik di Indonesia terus maju, dan Relawan Jurnal Indonesia terus dapat membantu dengan sabar pada setiap universitas di Indonesia dalam menerima keluhan, menaikan level jurnal ke tempat yang lebih baik.

Terima kasih.

Wassalammuallaikum warohmatullahi wa’barakatuh.

Curahan Hati Pengelola Jurnal Fakultas

Post navigation