ID.098-28022018-230144-075-02

Dunia pengelolaan jurnal merupakan hal yang sudah lama berada di tengah-tengah ruang lingkup akademis. Seiring dengan kemajuan teknologi, pengelolaan jurnal pun semakin canggih dan penuh tantangan. Demikian halnya di lingkungan jurnal yang saya kelola, proses transisi dari pengelolaan jurnal berbasis kertas menuju pengelolaan berbasis daring ditempuh dengan cara yang tidak mudah. Dimulai dengan proses setting OJS lengkap dengan pengisian konten OJS nya yang sama-sama kami mulai dari nol. Setelah mulai mengenal dan paham proses alur OJS tersebut, tantangan lain pun datang. Menyatukan paham antara seluruh peran yang berada di alur OJS tersebut menjadi PR besar selanjutnya yang (bagi saya) belum menemukan solusi dari masalah tersebut.

Di jurnal yang saya kelola hanya sekitar 30% dari para penulis dan juga editor yang mengikuti alur OJS yang telah ditentukan, selebihnya masih konvensional (via email atau bahkan paper-based). Hal ini tentu saja sangat menghambat kemajuan jurnal yang kami kelola. Masalah selanjutnya, yang juga tidak kalah pentingnya, adalah masalah akreditasi. Akreditasi yang kini berbasis online juga mengharuskan para pengelola jurnal untuk berusaha keras agar bisa meloloskan jurnalnya menuju jurnal terakreditasi. Hal tersebut pun tidak semudah membalikan telapak tangan. Bukan hanya faktor internal (pengelola jurnal) tetapi faktor external (indexing, penulis, dan pemangku kebijakan) pun menjadi faktor penunjang yang sangat rentan. Proses akreditasi ini pun mengharuskan suatu jurnal untuk mampu menyunting artikel sehingga menjadi artikel yang berkualitas baik secara konten maupun konstruk. Proses penyuntingan ini bukanlah hal yang sepele dan bisa dilakukan dalam waktu yang cepat. Dari 9 naskah yang harus kami terbitkan setiap semesternya, keseluruhannya masih perlu untuk diperbaiki baik itu dari segi konten maupun konstruk. Hal ini menjadi tantangan setiap terbitannya bagi saya pribadi yang masih belajar untuk mengelola jurnal.

Di rumah jurnal, pengelola jurnal harus bisa menjadi peran apapun tidak hanya berperan sebagai pengelola saja. Suatu saat harus bisa menjadi editor, harus bisa menjadi penulis, bahkan harus bisa menjadi reviewer juga. Terlebih lagi, jika pengelola itu mempunyai kewajiban lain seperti halnya saya sebagai dosen, mempunyai kewajiban lain yakni mengajar. Time management pun menjadi hal yang harus diperhitungkan. Hal terakhir namun merupakan hal yang paling rentan adalah ‘penghargaan’. Penghargaan mungkin menjadi momok bagi setiap pengelola jurnal di manapun di seluruh Indonesia. Tidak terkecuali di lingkungan jurnal yang saya kelola. Di satu sisi banyak sekali hal dan tantangan yang harus kami lakukan tetapi di sisi lain penghargaan yang kami dapat tidaklah sesuai. Tetapi di luar semua itu, saya tidak menapikan bahwa sangat banyak ilmu yang saya dapatkan dari hasil mengelola jurnal ini. Semoga menjadi amal ibadah dan juga memberikan feedback positif bagi kehidupan saya.

Hidup RJI!

*Penulis adalah peserta TOT Relawan Jurnal Indonesia

Superman dan Penghargaan

Post navigation