ID. 059-26022018-103009-036-03


Tahun ini adalah tahun ke-3 saya menjadi pengelola jurnal, persis seumuran dengan jurnal yang saya kelola. Sudah bisa ditebak bahwa saya di’lantik’ bersamaan dengan peluncuran perdana jurnal kami. Yah benar, ibarat cogito ergo sum’nya Rene Descartes, Aku ada maka jurnal itu ada (maaf cenderung lebay dan dipaksakan.. hehe)

Alkisah, Juli 2015 saya baru diterima menjadi dosen di kampus yang sekarang menjadi tempat saya mengabdi. Kisah jurnal bermula ketika aturan kampus menyatakan bahwa seorang CPNS dosen harus diperbantukan menjadi staf di fakultas/unit sampai menjadi PNS. Secara tidak terduga dan tidak terencana (baca: tidak ada penawaran dan konfirmasi sebelumnya) saya ditugaskan di unit yang persis ketika saya masuk ternyata dalam agenda mengawali penerbitan jurnal bahasa asing yang memang belum ada di kampus kami. Lebih dramatis lagi, ternyata di unit ini saya adalah staf yang menjadi teman satu-satunya bagi kepala unit. Di bulan pertama saya bertugas sebagai dosen dengan 30 sks, di saat yang sama sebagai staf dengan urusan administrasi yang menumpuk, kami diamanahkan untuk menerbitkan jurnal dalam jangka waktu 2 bulan dengan alasan aturan penganggaran. Walhasil, dengan Bismillah kami ikhlas menerima tugas itu, maklum CPNS dalam masa ujian integritas.

Di masa itu, jurnal bagi saya bagaikan ungkapan ‘surga’ yang digambarkan dalam sebuah hadis Nabi Muhammad: ia tidak pernah terlihat oleh mata, tidak pernah terdengar oleh telinga dan bahkan tidak pernah terlintas dalam benak. Sebagai dosen hadis yang berlatar belakang alumni pesantren tradisional dan mahasiswa santri (banyak bertugas sebagai imam masjid), jurnal adalah makhluk asing. Dan musibah terbesarnya adalah jurnal tidak hanya dalam bentuk cetak tetapi juga online, termasuk jurnal ini dalam Bahasa Inggris dan Arab, yang lagi-lagi membuat saya dalam posisi kurang diuntungkan mengingat modal IT dan Bahasa Arab- Inggris saya masih terbilang minim.

Masa awal itu cukup berat bagi kami, mulai dari merancang nama jurnal, mencari reviewer, mendesain cover dan gaya selingkung, dan seluruh tetek bengek-nya, termasuk bagian tersulit adalah mencari 5 artikel Arab dan 5 artikel Inggris. Dengan alasan tanggung jawab, jurnal harus terbit di bulan September, meski dengan segala keterbatasan ilmu dan informasi yang kami miliki. Akhirnya, kami ‘berhasil’ menerbitkannya, keberhasilan yang sesungguhnya tanggung karena melahirkan beberapa masalah, yang sebagiannya sudah bisa teratasi dan beberapa yang belum dan mungkin tidak akan terselesaikan lagi.

Pertama, kami bersusah payah mendapatkan artikel karena artikel bahasa Arab dan Inggris terhitung sulit untuk sebuah jurnal baru yang belum memiliki reputasi dibanding jurnal lainnya. Belum lagi diharuskan 10 artikel, yang pada saat itu merupakan tuntutan karena jurnal harus berdasar RKAKL. Kami sedikit diuntungkan karena ada iming-iming ‘koin’ yang lumayan besar untuk penulis artikel, meskipun berujung pada pengorbanan besar bagi saya yang harus kerja keras mengedit ulang semua artikel yang sangat jauh dari selingkung jurnal. Tetapi situasi ini melatari kecerobohan yang berimbas kepada 2 ‘pelanggaran’ yang kami lakukan. Pelanggaran ringannya adalah pengelola jurnal sendiri menjadi penulis artikel yang belakangan kami ketahui itu ‘kurang etis’, tetapi mungkin bisa dimaafkan. Tetapi, pelanggaran beratnya adalah kami menerbitkan 1 tulisan yang 100 % plagiasi. Alasannya ada tiga: 1) kami belum paham plagiarism checker, meskipun sempat curiga kami tetap mendahulukan prasangka positif, maklumlah kami dianggap ustad seperti halnya penulis itu; 2) penulisnya adalah senior yang dihormati banyak orang di kampus, jadi takut kualat; 3) jika ditolak, jurnal tidak bisa terbit karena akan kurang dari target 10 artikel. Syukurlah kami berhasil mencabut artikel itu.

Kedua, terbitan pertama itu tidak menguntungkan karena terbitnya sekali dalam setahun, aturannya baru kami sadari di tahun kedua. Sehingga terbitan itu seakan tidak bisa dihitung sebagai 1 tahun terbitan. Kami sudah mencoba untuk membayar ‘utang’ itu, tetapi ibarat gali lobang tutup lobang, jika kami membayarnya dengan apa lagi kami harus membayar periode berjalan, mengingat persoalan kesulitan mencari artikel masih berlangsung sampai sekarang.

Ketiga, nama jurnal kami menurut saya kurang ideal sekaligus kurang filosofis. Sebabnya, nama tersebut menyamai sebuah nama pulau wisata terkenal di Malaysia yang sama sekali tidak ada sangkut-pautnya, baik hubungan geografis, budaya, nasional, maupun secara ilmiah (bidang keilmuan jurnal). Kedua, alasan nama itu sesungguhnya hanya ‘cocokologi’ yang secara gramatikal juga lumayan keliru. Tetapi yah, demikianlah nama, terkadang tidak harus benar secara bahasa, tetapi benar secara makna dan tujuan. Kira-kira itulah alasan yang membuat kami ‘seakan’ membenarkan nama itu hingga sekarang. Lagi-lagi mepetnya deadline ketika itu membuat kami berpikir terbatas dan tanpa perhitungan matang, dimana seingat saya nama itu diputuskan dengan diskusi terbatas antara saya, atasan, dan seorang senior dosen Bahasa Inggris.

Terlepas dari semua kekurangan yang kami sadari dan belum kami sadari (tepatnya pura-pura kami tidak sadari), jurnal kami dianggap salah satu dari jurnal yang maju di kampus kami. Alasannya sederhana, karena sudah terindeks DOAJ. Bagi saya pribadi itu miris, karena saya tahu persis jurnal ini masih berbenah banyak kekurangan yang tidak memuat halaman curhatan ini untuk diceritakan, bahkan satu hal terpenting yaitu template belum juga kami rampungkan hingga sekarang. Termasuk proses review dan revisi yang belum maksimal. Kendalanya adalah keterbatasan waktu di tengah tugas sebagai dosen dan tugas-tugas lainnya yang tidak terelakkan mengingat personil di kampus kami terbatas. Termasuk keterbatasan ilmu, hampir semuanya saya pelajari otodidak, sehingga pengalaman begadang hingga Subuh sudah menjadi kebiasaan yang cukup lama.

Tetapi kami juga tidak boleh terhalangi untuk berbangga atas ‘prestasi’ kecil itu, hitung-hitung itu adalah ‘balasan’ atas rasa kantuk, lelah fisik dan hati, selama 3 tahun terakhir. Lebih daripada itu, tentu alasan terbesar kami bertahan dalam tugas minim ‘poin’ dan ‘koin’ ini adalah asas manfaat. Saya beruntung dibimbing langsung oleh atasan yang sabar dan tulus, serta memiliki prinsip yang sama yaitu niat jihad dan ibadah. Kami berpegang pada ajaran Nabi bahwa sebaik manusia adalah yang paling banyak bermanfaat bagi manusia lainnya. Anggaplah kami menjadi jalan bagi orang mendapatkan ‘poin’ dan ‘koin’, dan terpenting manfaat karena turut menyebarluaskan ilmu pengetahuan. Jika seorang wanita tunasusila bisa masuk surga karena memberi minuman anjing yang sekarat, maka tidak layakkah jihad jurnal menjadi alasan bagi Tuhan untuk membalas dengan surga? Paling tidak ‘surga akreditasi’.Motivasi tersebut semakin mantap dengan dipertemukannya kami dengan saudara-saudara di RJI, yang membuat kami yakin bahwa jalan menyempurnakan jihad ini semakin terbuka lebar sebagaimana terbuka lebarnya pintu surga bagi relawan-relawan pilihan. Amin.

*Penulis adalah peserta TOT Relawan Jurnal Indonesia
Jurnalku Surgaku

Post navigation