ID. 023-24022018-195708-017-03


Saya mulai belajar mengelola jurnal pada tahun 2015. Hal ini dimulai saat saya mengusulkan kepada teman-teman di prodi untuk membuat sebuah jurnal yang sesuai keilmuan prodi. Sebenarnya saat itu di institusi kami telah ada dua jurnal, tetapi isinya seperti bunga rampai. Akhirnya pertengahan tahun 2015 dengan bermodal pengetahuan yang seadanya, kami mengajukan ISSN untuk terbitan pertama pada bulan November 2015. Karena saat itu hanya saya yang memiliki sedikit pengalaman mengelola jurnal, akhirnya saya ditunjuk oleh teman-teman untuk mengelola jurnal tersebut.

Masalah pertama yang saya hadapi adalah tata kelola di OJS dan sulitnya mendapat artikel untuk terbitan edisi pertama. Hal ini karena minimnya minat dosen untuk melakukan penelitian dan publikasi. Dari target delapan artikel, saya baru bisa mengumpulkan tiga artikel. Artikel yang saya kumpulkan saat itu merupakan artikel teman-teman yang mendapat hibah penelitian. Demi melengkapi menjadi delapan artikel, saya meminta teman-teman lain untuk memilih skripsi mahasiswa yang terbaik dan belum pernah dipublikasi. Dengan berbagai kesulitan tersebut, terbitlah jurnal edisi pertama kami pada November 2015.

Tahun berikutnya, kesulitan yang saya hadapi adalah tidak adanya minat dari teman-teman untuk membantu mengelola jurnal yang telah berjalan. Selain itu, penghargaan dari pihak institusi terhadap pengelola jurnal juga belum maksimal. Akhirnya dengan pengetahuan seadanya, saya berkomitmen untuk tetap mengelola jurnal. Saya lakukan sendiri dari mulai mencari artikel, mencari reviewer, mengirim naskah ke reviewer, menerbitkan jurnal, dan semua tugas pengelola lainnya. Dapat dibayangkan bagaimana sulitnya mengelola jurnal sendirian dari mulai mencari artikel sampai menerbitkannya.

Itulah alasan mengapa selama dua tahun, kami tidak mengajukan ISSN versi cetak karena tidak adanya dana pendukung pengelolaan jurnal. Pengetahuan saya tentang mengelola jurnal mulai bertambah dengan adanya pelatihan-pelatihan yang diadakan oleh Kemenristekdikti. Berkat mengikuti beberapa pelatihan, akhirnya saya mulai mengetahui beberapa kekurangan jurnal online yang saya kelola. Dengan menggunakan sumber daya yang ada berupa satu laptop, internet kampus, dan nol rupiah, saya berusaha memaksimalkan pengelolaan jurnal dengan menggunakan OJS.

Setelah dua tahun, akhirnya pihak institusi mulai menghargai para pengelola jurnal. Penghargaan itu antara lain berupa: diadakannya pelatihan internal tentang publikasi ilmiah untuk para dosen serta mendukung pelatihan pengelolaan jurnal dan memberikan dukungan dana bagi pengelola jurnal. Dukungan yang diberikan oleh institusi sebenarnya tidak lepas dari beberapa kebijakan Kemenristek Dikti terkait publikasi ilmiah. Terutama semenjak munculnya SINTA. Kemunculan SINTA dapat membuat pihak institusi dan para dosen menyadari pentingnya publikasi ilmiah. Syukurlah, jurnal yang saya kelola dapat masuk SINTA, walaupun masih berada di SINTA 5. Hal ini mampu membuat pihak manajemen di institusi tergerak untuk memberikan dukungan lebih baik kepada pengelola jurnal.

Meskipun institusi telah memberi dukungan penuh terhadap pengelola jurnal, tetapi masalah klasik masih tetap ada, yaitu kurangnya minat para dosen untuk menulis artikel. Alasan terbesarnya adalah minimnya keahlian menulis para dosen senior. Padahal mereka memiliki keahlian teknik yang sangat tinggi. Masalah inilah yang berusaha untuk dicarikan solusinya oleh pihak institusi. Adapun solusi yang ditawarkan adalah membuat skema penelitian yang dapat menggabungkan antara dosen senior dengan dosen berkeahlian menulis yang baik. Skema ini baru akan diterapkan pada tahun anggaran 2018 sehingga masih belum terlalu terlihat dampaknya.

Masalah utama saya dalam mengelola OJS adalah masih banyaknya penulis yang tidak memahami teknis penggunaan OJS. Saya sering mendapat permintaan dari penulis untuk dibuatkan akun di OJS. Hal ini karena penulis tidak paham cara melakukan pendaftaran. Bahkan setelah itu, mereka juga meminta bantuan saya untuk melakukan submit artikel ke OJS karena tidak memahami prosedur memasukkan artikel melalui OJS. Masalah lain yang cukup merepotkan sebagai pengelola jurnal online adalah keterbatasan saya untuk mengakses server tempat OJS tersimpan. Hal ini sangat membatasi saya apabila ingin melakukan beberapa perubahan pada OJS. Setiap kali ingin melakukan beberapa perubahan, saya harus menghubungi pihak pengelola server. Pernah beberapa kali terjadi kondisi server down yang menyebabkan OJS menjadi offline. Karena tidak memiliki akses ke server, akhirnya saya tidak dapat memperbaiki masalah dengan cepat. Saya harus menunggu pihak pengelola server yang juga sibuk mengurusi hal lain. Mudah-mudahan tahun ini masalah tersebut dapat teratasi. Akhirnya, institusi sudah mulai memperhatikan kesulitan kami sebagai pengelola jurnal yang sedang mempersiapkan diri untuk pengajuan akreditasi tahun depan.

*Penulis adalah peserta TOT Relawan Jurnal Indonesia
Buah Kesabaran

Post navigation