ID. 044-25022018-220040-034-01


Jika diperbolehkan bercanda, saya ingin bertanya: “Mengapa anda bersedia mengelola jurnal ilmiah?” Atau apabila diijinkan bernada sarkastik, saya hendak berkata: “Apa yang anda peroleh dari meng- urusi jurnal ilmiah?” Setiap orang tentu punya motif sendiri-sendiri. Ada yang mengaku mendapatkan kepuasan tersendiri dari dunia pengelolaan jurnal ini. Alhamdulillah masih merasakan nikmat batiniyah. Seorang kolega yang barusan turun SK profesornya berseloroh bahwa kemudahan yang diperoleh selama mengurus kepangkatan ini salah satunya karena berkah membantu orang lain mengurusi kepangkatan mereka. Tentu “berkah membantu” ini berkaitan dengan keberhasilan pengelola jurnal dalam menerbitkan, atau dalam bahasa yang akademis, menyebarluaskan tulisan dan pemikiran akademisi yang bisa dipakai untuk promosi kepangkatan mereka. Alhamdulillah masih merasakan nikmatnya bersyukur dan berpikir positif.

Testimoni di atas memang bersifat kualitatif. Memang tidak bisa mengharapkan penghargaan materil yang “murwat” atau cukup dari jurnal, entahlah di jurnal yang sudah mapan. “Jer basuki mawa bea”. Pepatah Jawa ini tampaknya cocok untuk menggambarkan pengorbanan pengelola jurnal. Pepatah ini mensyaratkan bahwa setiap cita-cita, idealisme, kesuksesan itu membutuhkan biaya. Semangat menggiatkan publikasi membutuhkan pengorbanan biaya, tenaga, dan waktu. Apalagi dengan sistem OJS yang mengharuskan pengelola jurnal akrab dengan internet. Karena mereka tidak punya jam kerja formal, artinya mereka seringkali harus merelakan mobile atau broadband data mereka untuk jurnal.

Lima tahun yang lalu ketika saya menjadi Editor in chief, jurnal harus saya gendong kemana-mana. Ketika berkenalan dengan seseorang di pameran pendidikan, tidak lupa saya minta dia mengirim paper atau monograph. Pada saat mengikuti workshop internasional, tidak lupa saya rayu akademisi dari berbagai negara itu untuk menjadi reviewer. Alhamdulillah, saya sudah tidak lagi editor in chief, Tetapi ketika saya diminta kembali menjadi managing editor merangkap copy editor, susah rasanya menolak.

Dalam lima tahun terakhir, dunia pengelolaan jurnal Indonesia telah mengalami perkembangan yang pesat dan berat. Munculnya kitab-kitab baru semacam OJS, ARJUNA, SINTA, DOAJ, hingga kitab rujukan bagi para calon professor macam Scopus, Scimago dan lembaga indeksasi yang lain. Ketika diminta kembali masuk gerbang perjurnalan, saya harus terbata- bata dan belajar cepat memahami kitab-kitab tersebut.

Bukan  itu  saja,  sebagai  pengelola  jurnal  berbahasa  Inggris,  kami memiliki tiga tantangan. Pertama, tantangan tata kelola jurnal. Permasalahan yang muncul bukan hanya instalasi OJS tetapi juga mem- persiapkan sumber daya manusia yang memahami OJS hingga edukasi penulis untuk menggunakan OJS. Kedua, memastikan isi yang berkualitas. Terkadang mempersiapkan bagian ini seperti buah simalakama. Ketika reviewer atau mitra bebestari memberi masukan yang berat, terkadang penulis mohon pamit untuk mencari jurnal lain. Jika tidak melalui reviewer yang baik, tentu dinilai kurang bermutu oleh asesor akreditasi jurnal.

Sebenarnya bagi seorang penulis, masukan reviewer itu sumber ilmu pengetahuan yang mungkin tidak diperoleh di ruang kuliah. Tetapi terkadang menyerah itu yang menjadi pilihan. Adalagi juga penulis, sesudah makalah direview, bukannya mengirim hasil revisi, tetapi menyampaiakan info bahwa makalahnya sudah diterbitkan di jurnal yang lain. Tidak lupa juga dia berpesan agar dia diberi kesempatan mengirimkan makalah dan dimuat di masa yang akan datang, sakitnya tuh di sini. Kondisi seperti ini membuat nafas pengelola jurnal semakin terengah-engah, apalagi jika sudah mendekati tanggal terbit. Butuh waktu yang tidak sedikit proses me-review makalah yang dimulai dari menghubungi dan menunggu kesediaan reviewer hingga mengingatkan reviewer. Seolah-olah kerja reviewer yang secara sukarela meluangkan waktu memberi masukan tidak mendapat penghargaan yang semestinya.

Dua tantangan di atas mungkin dialami semua jurnal. Akan tetapi jurnal berbahasa Inggris atau berbahasa asing lain harus menghadapi tantangan ketiga, yaitu mencermati gaya Bahasa penulis. Saya beberapa kali menemukan interferensi atau pengaruh bahasa Indonesia ke dalam bahasa Inggris yang dipakai penulis. Mau tidak mau makalah harus dicermati bukan hanya kualitas isinya tetapi juga grammarnya, spellingnya, hingga tingkat keterbacaan kalimatnya. Sebuah tantangan tersendiri.

Alhamdulillah saat ini pemerintah melalui Kemristekdikti, Kemenag, atau lembaga pemerintah yang lain melakukan workshop peningkatan kualitas SDM jurnal. Organisasi profesi, misalnya RJI, pun terlibat dalam kegiatan-kegiatan ini. Mencermati workshopworkshop yang ada, tujuan utamanya masih berkutat pada akreditasi jurnal. Perlulah kiranya dipikirkan juga bagaimana memberdayakan atau mengupayakan kemandirian jurnal tanpa mengurangi kualitas jurnal.

Tidak bisa dimungkiri bahwa jurnal bukanlah sebuah dunia yang bebas biaya. Migrasi ke OJS membutuhkan biaya hosting, server, atau semacamnya. Syukur Alhamdulillah jika lembaga penerbit memiliki server sendiri. Lembaga-lembaga seperti Crossref (DOI) maupun Scopus juga mengharuskan jurnal membayar annual member fee dan biaya per makalah. Belum lagi jurnal sebagai sebuah organisasi tentunya membutuhkan dana operasional. Di samping usaha menuju profesionalisme jurnal tersebut, kiranya juga diperlukan sosialisasi etika perjurnalan baik kepada penulis maupun pengelola jurnal; sosialisasi norma-norma yang melindungi kepentingan penulis maupun jurnal.

*Penulis adalah peserta TOT Relawan Jurnal Indonesia
Jer Basuki Mawa Bea

Post navigation