Saya pertama kali terlibat dalam pengelolaan jurnal di tahun 2014. Ketika itu saya diminta menjadi editor di jurnal yang saya singkat menjadi jurnal RJ dan biasanya hanya menyunting satu atau dua  artikel saya tiap semester. Tahun berikutnya saya diminta oleh Rektor menjadi editor in chief di jurnal berbahasa Inggris tersebut. Sungguh perasaan saya saat itu cukup bangga tetapi juga agak takut dengan beban tugas yang dihadapi. Salah satu beban tugas itu ialah menyiapkan akreditasi jurnal cetak karena saat itu akreditasi online belum dikenal luas.

Alhamdulillah, pada saat itu ada beberapa senior dari jurnal yang sudah terakreditasi A dan B memberi arahan tentang evaluasi diri jurnal dan borang yang perlu disiapkan untuk akreditasi. Saat itu saya bisa merasakan betapa repotnya menyiapkan borang akreditasi termasuk yang agak unik dan lucu adalah membuat oplosan artikel. Kenapa ada praktik oplosan segala? Demi konsistensi ketebalan jurnal maka disarankan agar tiap edisi konsisten 150 halaman padahal ada edisi yang sangat tipis 100 halaman tetapi ada juga edisi yang terlalu tebal sekitar 200 halaman.

Ini baru satu persoalan, belum lagi mengkoordinir kawan-kawan untuk menyiapkan borang yang diperlukan sampai berhari-hari dan berminggu-minggu dari pagi sampai sore di kampus dan khusus di hari mau naik pesawat ke Jakarta untuk menyerahkan jurnal cetak ke LIPI dan menyerahkan borang akreditasi ke Ristekdikti saya harus menginap di rumah teman di Salatiga biar bisa pagi-pagi berangkat bareng ke Bandara Adi Sumarmo Solo. Setelah semua kesusahan itu kira-kira dua bulan keluarlah hasil akreditasi berupa score nilai 57. Waaduuh ternyata masih jauh dari harapan yang skornya 70 untuk akreditasi B atau jurnal terakreditasi nasional. Beberapa kritik yang tertulis di lembar penilaian adalah perlunya kerjasama dengan asosiasi profesi, perlunya menjaring penulis, editor dan mitra bebestari dari luar kampus. Kami menyadari hal ini. Memang jurnal kami masih masih belum luas jaringannya sehingga terkesan hanya jago kandang.

Menimbang penilai dan kritik yang telah sampai, kami kemudian berbenah apalagi tahun itu jurnal online berbasis OJS mulai dipopulerkan. Ada kemudahan dalam akreditasi yang bersifat “paperless” alias tidak mengandalkan penggunaan kertas, tetapi juga menjadi tantangan berat karena banyak di antara kami yang awam IT. Kami mulai minta bantuan teman-teman di Pangkalan Data dan tim IT kampus untuk membuatkan jurnal online berbasis OJS. Kami juga menyempatkan hadir di setiap workshop dan seminar yang dihadiri asesor nasional. Kampus kami juga pernah menghadirkan pembicara dari RJI.

Sungguh perjumpaan dan pengalaman yang sangat mengesankan, karena dengan berjumpa para pegiat jurnal ini pengetahuan kami tentang OJS dan akreditasi jadi bertambah. Kami juga mengajukan proposal bantuan hibah pengelolaan jurnal dari Ristekdikti dan alhamdulillah di tahun 2017 kami bisa mendapatkan bantuan hibah untuk peningkatan mutu jurnal. Dana itu kami gunakan untuk mengadakan workshop penulisan internasional dan workshop editorial jurnal menuju akreditasi online.

Setelah semua proses dijalankan, kami memberanikan diri untuk maju akreditasi online periode Agustus 2017 yang penilaiannya diadakan saat bulan September dan Oktober 2017. Hasil evaluasi diri web Arjuna sebesar 75. Sebuah nilai yang mungkin terlalu percaya diri. Saat itu kami merasa mantap menetapkan angka itu karena salah satunya kami sudah membuat kerjasama dengan asosiasi guru dan dosen bahasa Inggris binaan Kementerian Agama dan gerakan “One Day One Click”, sehingga kunjungan jurnal kami selalu di atas 50 unique visitor.

Setelah kira-kira dua bulan keluarlah hasil akreditasi online berupa skor yang mengejutkan. Nilai kami 68,21. Waaaduhhh, sudah dekat sekali dengan angka 70. Hanya kurang nilai 1,79 dan di web Arjuna saya juga melihat kritik baik asesor satu dan asesor dua tentang kelemahan terbesar kami pada proses editing, reviewing dan publishing. Memang ini kami sadari kami lebih terfokus hanya pada tata kelola webnya padahal penilai terbesarnya pada proses pengelolaan artikel yang di dalam. Kelemahan yang lain juga 50 persen editor kami masih dari kampus sendiri dan satu pun belum ber-scopus id alias belum punya pengalaman internasional.

Setelah melewati masa-masa itu, kami bertekad untuk berbenah memperbaiki mutu jurnal dengan mencoba membuat konsolidasi ke dalam dengan sering mengadakan rapat dewan editor dan menunjuk satu orang yang bertanggung jawab terhadap tata kelola jurnal dan satu orang yang bertanggung jawab dengan konten web yakni mantan Pimpinan Redaksi terdahulu yang sudah kembali belajar dari negeri Britania Raya. Kami juga mendorong setiap editor untuk memiliki Scopus ID dengan mengikuti konferensi internasional yang mengarah pada prosiding yang terindeks Scopus dan juga mencoba mengirimkan artikel ke jurnal internasional yang terindeks scopus. Insya Allah tahun depan jurnal kami akan maju lagi untuk akreditasi di tahun 2018.

 

Suka Duka Menyiapkan Akreditasi Jurnal

Post navigation