Januari 2016, keinginan memiliki jurnal prodi berawal dari rapat prodi kami. Awal mula usulan membuat jurnal elektronik adalah untuk membantu mempermudah mendapatkan jabatan fungsional bagi teman-teman dosen dalam satu prodi sekaligus menambah penilaian akreditasi. Itu karena prodi kami merupakan prodi yang baru berdiri dan belum terakreditasi. Butuh proses lama bagi kami untuk menetapkan nama jurnal, dimulai rapat kecil atau sekedar obrolan, hingga akhirnya nama jurnal diputuskan setelah perwakilan prodi mengikuti pelatihan pengelolaan jurnal yang diadakan oleh suatu perkumpulan pendidik di Semarang. Akhirnya kami memutuskan bersama nama untuk jurnal kami, walaupun terdapat nama institusi di sana, yah, karena kami sama sekali belum tahu tentang akreditasi jurnal dan sebagainya. Bukan sekedar memberikan  namaberkesan  kental  berbahasa  Inggris,  tetapi  kami  juga punya mimpi jika suatu masa jurnal kami akan akan menjadi jurnal internasional terindex Scopus. Mimpi yang tinggi ya? Tetapi bukankah memang bermimpi harus setinggi mungkin?

Saya bercerita tentang perjalanan saya dalam mengelola jurnal. Saya assistant editor, bukan editor in chief, tetapi bisa dikatakan 80% pengelolaannya saya yang menjalankan. Berselancar di internet, saya mencoba mempelajari beberapa panduan pengelolaan jurnal. Ini dikarenakansaya benar-benar buta dalam urusan perjurnalan. Hal selanjutnya yang saya dan tim lakukan adalah menyusun pedoman penulisan. Setelah pedomen penulisan selesai, then how to get the articles? Saya mencoba membuat brosur promosi jurnal yang kemudian kami sebarkan melalui media sosial. Selanjutnya how to get the reviewers (mitra bebestari)? Alhamdulillah, karena kami bekerjasama dengan sebuah asosiasi, maka kami diberikan kemudahan untuk mendapatkan mitra bebestari melalui jejaring itu.

Sampailah pada Oktober 2016 kami memberanikan diri untuk launching online jurnal kami dengan 9 artikel. Saat itu saya hanya berpikir yang penting artikel-artikel itu terbit, tanpa memikirkan bagaimana alur terbitnya artikel (submit-review-revise-publish). Juga tanpa memikirkan idealnya mengelola sebuah jurnal menggunakan OJS, apalagi indeksasi. So, semua artikel masih saya publish dengan cara quick submit. Tantangan terbitan pertama terlampaui. Banyak prodi lain di kampus bertanya bagaimana cara membuat jurnal elektronik kala itu kepada saya. Pertanyaannya bervariasi, ada yang tanya berapa banyak biaya yang dibutuhkan karena banyak persepsi di beberapa prodi bahwa membuat jurnal itu membutuhkan alokasi biaya yang besar.

Persoalan dana selalu menjadi hal yang sensitif jika dibicarakan di kampus, apalagi jika melihat latar belakang kampus kami adalah kampus swasta. Bukan berarti jika status swasta kemudian tidak mampu menunjukkan produktivitas yang baik. Justru itulah tantangan jurnal kami, kendala pendanaan yang kami hadapi perlahan terlewati. Jawaban dari semua pertanyaan dan kendala itu adalah terletak pada ‘niat’, selama kita berbuat sesuatu dengan semangat, keyakinan dan ketekunan maka kendala yang menghantui, perlahan akan terlewati. Saya yakin, jika jurnal kami eksis, konsisten dan berkembang, maka kampus pun akan memberikan dukungan dana. Ini bukan dongeng, namun terbukti pada jurnal yang saya dan tim kelola. Pada awalnya kami berjuang dengan niat yang kuat, kemudian menjaga konsistensi untuk terus terbit, dan akhirnya kampus pun mendukung jurnal yang kami kelola untuk terus ber- kembang, dengan dukungan dana yang ‘apa adanya’, never mind, keep running till the end.

Desember 2016, what next? Belajar mengelola jurnal, how to maintenance? Benar-benar blank untuk mengelola OJS versi 2.4.8.2, bahkan kami sudah belajar dengan pihak Teknologi Informatika kampus tetapi lagi-lagi hanya sebatas quick submitted, sampai akhirnya sekretaris prodi kami yang kenal dengan salah satu pengurus RJI Jateng, meng- invitesaya untuk bergabung di grup WhatsApp RJI Jateng. Kesan pertama adalah ‘Grup apa ya ini? Alih-alih berselancar di internet, serasa me- nemukan oase di padang pasir. Dipertemukan dengan forum pengelola jurnal  dengan  nama  kerennya  Relawan  Jurnal  Indonesia  (RJI),  saat  itu rasanya seperti menemukan kumpulan teman seperjuangan. Ganbatte!!! Bukan hanya ikut grupnya, awal mula ikut acara pelatihannya juga ‘ngeblank’, sampai akhirnya kami tahu bahwa salah satu Tutor RJI (narasumber) ternyata adalah teman dosen satu kampus. Entah dikatakan buta IT, kuper, atau apalah saya tidak peduli. Saya terus menggali ilmu dari beliau, sekecil apapun saya tanyakan, sampai akhirnya diterbitan ke-3 saya memberanikan diri untuk menerbitkan artikel full online meng- gunakan OJS, meskipun masih banyak kekurangan. Thank for all brother.

Kendala pengelolaan jurnal tidak hanya sampai di situ, target dari pelatihan RJI kedua adalah apply to DOAJ. Tetapi setelah kami aply justru kami dihadapkan dengan server yang bermasalah. Hampir setiap hari pada saat itu, portal jurnal kami tidak dapat diakses. Lagi-lagi server down. Akhirnya untuk keberlanjutan jurnal yang ada di kampus, kami para pengelola jurnal satu kampus mengajukan permohonan perbaikan server. Bukan hal yang mudah karena tidak semua pengambil kebijakan di kampus memahami pentingnya hal itu, apalagi pengadaan server yang berkualitas dibutuhkan dana yang banyak. Kami putus asa saat itu. Jika permintaan kami tidak disetujui pihak kampus maka ya sudahlah kami menyerah. Tuhan bersama kami. Tidak lama setelah kami mengajukan permohonan pengadaan server, akhirnya pihak kampus menyetujuinya. Semangat kami selaku pengelola jurnal pun kembali ada.

Kembali  lagi  ke  RJI.  Jujur  saja,  bergabung  dengan  grup  RJI  sangat membantu kami selaku pengelola jurnal untuk belajar lebih banyak tentang tata kelola jurnal elektronik. RJI juga membantu kami memoles tampilan OJS2 yang tadinya biasa saja menjadi tampilan jurnal yang ‘eye catching’. Bukan hanya tampilan saja, tetapi juga dibantu untuk How to manage journal? How to submit DOAJ? (walaupunsekarang on progress assessment), How to setting OJS? And so many other answer question for ‘how?’ Sekarang, saya dan tim belajar dan terus belajar mempublikasikan hasil penelitian ilmiah ke jurnal elektronik yang sampai saat ini sudah 3 kali terbit, masih banyak sekali kekurangan dalam diri saya selaku pengelola jurnal. Tetapi saya yakin dengan belajar dan terus belajar, saya akan terus memperbaiki kualitas diri saya sebagai pengelola jurnal, dan tentunya kualitas jurnal kami. Sampai kapan perjuangan ini berakhir, apakah sampai mimpi terindeks Scopus kami tercapai? Ya, mungkin lebih dari itu. Wish me luck.

Berproses Tiada Henti

Post navigation