ID. 056-26022018-083437-043-01


Bagaimana awal mula kenal dengan OJS? Panjang sekali ceritanya. Saya seorang karyawan IT yang dikenal sebagai programmer di sebuah instansi. Saya seorang sarjana komputer yang baru lulus Maret 2015 dan mulai bekerja Mei 2015. Belum memiliki pengalaman apa pun, walau hanya menulis jurnal. Predikat terjauh saya hanya menulis skripsi yang kemudian diringkas dalam format karya ilmiah. Awal bekerja, saya belum mendapat job desk. Satu hal yang pasti, saya diminta untuk membantu ini dan itu. Di akhir tahun, kepala unit meminta saya untuk mempelajari OJS. Pokoknya dipelajari, mulai dari instalasi hingga penggunaannya. Saat itu, OJS masih sangat asing dan baru pertama kali saya mendengar dari beliau. Bermodal bertanya sana-sini hasilnya hanya 1%. Ternyata teman saya pernah instal OJS di localhost. Tentang kegunaan dan manfaat OJS, dia tidak tahu. Seperti banyak orang bilang, sumber dari segala sumber informasi adalah ‘mbah google’. Baiklah, akhirnya dengan otodidak saya pelajari sendiri mulai dari intalasi dan pemakaian OJS. Semua itu saya lakukan selama kurang lebih dua tahun. Mengapa 2 tahun? Ya, karena di tahun 2015 dan 2016, institusi saya belum mengenal OJS. Belum mengerti arti penting OJS. Saya hanya diberi pesan oleh atasan, pokoknya pelajari OJS karena suatu saat OJS itu akan sangat penting dan perlu ada di instansi ini. Dan alhamdulillah wa syukurilah, di tahun 2017, barulah pimpinan lain menyadari perlunya OJS. Akhirnya.

Awal instalasi tentu tidak berhasil mulus sempurna, mulai dari menu login yang hilang serta email notifikasi yang tidak jalan. Masalah paling parah yang baru dapat saya pecahkan di tahun 2018 adalah upload media. Semua dapat terpecahkan berkat iseng mencoba-coba dan membaca-baca. Paling seru ketika bertanya pada seorang pakar melalui twitter. Sungguh tidak disangka, ternyata pertanyaan saya direspons dengan baik. Padahal menurut saya, di tahun itu twitter sudah tidak ‘zaman’. Bulan demi bulan saya lalui hanya untuk mempelajari alur penerbitan. Saya lakukan uji coba berkali-kali. Pertengahan tahun 2016, kepala unit mengundang beberapa perwakilan dari masing-masing fakultas untuk melakukan simulasi OJS. Grogi? Pasti. Secara saya single fighter. Jika ada kesalahan, saya wajib benahi sendiri. Jika ada pertanyaan, saya wajib menjawab. Waktu itu sempat ada yang bertanya dan jawaban saya salah. Teman-teman sekantor tertawa cekikikan di belakang, tetapi peserta lain tidak tahu dan menanggapi jawaban saya dengan serius. Bagaimana tidak, peserta lebih ‘polos’ dari saya.

Saat itu, rasanya ingin sekali berguru kepada siapa pun asal dapat ilmu. Lagi-lagi lewat internet, saya mencari informasi tentang pelatihan OJS. Sempat menemukan informasi tentang pelatihan yang dilaksanakan oleh sebuah lembaga swasta. Saya sampaikan kepada kepala unit. Beliau menjawab, “Coba cari lembaga yang milik pemerintah saja, Mbak. Lebih terpercaya dan mudah urus administrasinya.” Semangat saya yang mula- nya melonjak seketika anjlok. Mungkin memang saya diminta untuk kreatif dan belajar secara mandiri. Awal 2017, saya bertemu dengan seorang dosen. Saya ditanya-tanya tentang OJS. Dengan yakin saya mengatakan, “ya saya yang mbikinin OJS, Pak. Bagaimana?” Lalu beliau menjawab, “wah pas nih. Ada undangan dari perkumpulan dosen Indonesia, ngadain workshop OJS, Mbak berarti yang ikut. Nanti undangan saya kirim ke unit. Saya mintakan disposisi dulu”. Berbunga-bungalah hati saya waktu itu, akhirnya jalannya ketemu. Minggu demi minggu saya tunggu. Undangan belum juga saya terima. Akhirnya saya beranikan diri untuk bertanya lagi. Hari berikutnya, undangan lengkap beserta disposisi turun sampai ke unit saya. Ada dua nama staf IT yang ditunjuk langsung oleh atasan dan tidak ada nama saya dikertas itu. Kesal? Banget. Memang belum rezeki. Akhirnya kembali belajar OJS sendiri di sela-sela waktu tugas lain saya sebagai administrasi dan keuangan unit. Fokus OJS? Tentu tidak.

Awal 2017, salah satu atasan sadar bahwa OJS itu penting dan harus ada. Jadi, semua harus bisa. Maka dipanggilah saya dan diminta untuk memberikan pelatihan OJS kepada dosen-dosen pengelola jurnal di universitas. Bermodalkan sok tahu dan tanpa landasan teori yang benar sedikit pun, saya nekat meng-iya-kan permintaan beliau. Selama acara lancar? Tentu tidak. Saya menganggap ini bagian dari proses.

Doa saya pun terkabul pada September 2017. Saya mendapat informasi ada workshop OJS yang diadakan oleh instansi pemerintah, tetapi dengan biaya yang tidak murah. Saya sampaikan hal tersebut kepada kepala unit. Saya diminta untuk membuat pengajuan ke atasan. Langsung disetujui? Tidak. Bahkan ada pernyataan, “Ada yang gratis, tetapi kenapa pilih yang bayar, mahal pula”. Tidak ada keputusan dalam percakapan tersebut. Dalam hati, saya menggerutu. Dituntut untuk menyiapkan, mempelajari, dan menyampaikan OJS, tetapi hanya mau belajar kepada yang lebih profesional, rintangannya banyak sekali. Hemm, mungkin pimpinan kurang paham pentingnya OJS. Saya pun nekat berangkat dengan banyak berdoa. Semoga perjalanan saya ini diridhai Tuhan, meskipun atasan tidak merestui. Alhamdulillah tidak sia-sia. Banyak ilmu ‘lurus’ yang saya dapat dan ‘keluarga OJS’ baru yang sangat membantu. Pekerjaan rumah sepulang dari acara itu adalah menyampaikan kepada kawan- kawan. Bagi saya, ilmu yang saya miliki masih sangat jauh dari ‘menguasi’ OJS, baik setup maupun manajerial penerbitan. Oleh sebab itu, langkah selanjutnya saya mencoba mengikuti pelatihan yang diselenggarakan oleh RJI.

*Penulis adalah peserta TOT Relawan Jurnal Indonesia
Bermodal Otodidak

Post navigation