ID. 047-25022018-235026-037-01


Saya diberi amanah oleh chief-editor jurnal yang baru beberapa bulan berdiri di universitas sebagai editor. Saya tidak memiliki pengalaman submit jurnal sebelumnya. Saya hanya memiliki pengalaman membaca dan menulis artikel jurnal, tetapi tidak di submit. Peng- alaman mengunduh artikel ilmiah dari jurnal sudah sangat sering saya lakukan dan saya rasa cukup mudah. Menjadi editor di sebuah jurnal ternyata tidak semudah mengunduh artikel ilmiah. Ternyata menjadi editor di sebuah jurnal memerlukan ilmu web administrator, critical reading, speed reading, editing dan masih banyak lagi. Berangkat dari hal-hal seperti ini, saya mulai mencoba untuk menghargai bahwa menjadi editor adalah salah satu pekerjaan terberat yang saya alami.

Menjadi editor bukan permintaan saya, melainkan karena ditunjuk oleh chief-editor di universitas. Pada awalnya, saya cukup senang karena berarti mendapatkan ilmu baru. Setelah ditunjuk, saya diikutkan training dan workshop yang diadakan oleh Relawan Jurnal Indonesia (RJI) di kota saya. Jujur, hampir seluruh materi yang dibawakan tidak dapat saya cerna sebab saya tidak memiliki background knowledge yang mumpuni di bidang jurnal. Akhirnya, saya pulang dengan banyak pertanyaan konyol yang saya peroleh selama workshop, antara lain: apa itu OJS? Apa itu DOI? Mengapa jurnal perlu diakreditasi oleh pemerintah?

Setelah mengikuti workshop, akhirnya saya langsung diberi tugas untuk mengutak-atik web jurnal universitas. Saya mulai membuka website OJS. Tampilannya sangat sederhana. Walaupun demikian, saya masih awam terhadap berbagai menu yang ada pada website. Ada menu currents, archives, journal manager dan sebagainya. Tugas pertama saya adalah menjadi section editor dan meng-assign salah satu artikel ke salah satu reviewer. Saya memulai tugas itu dengan me-review dan proof reading manuskrip tersebut dan langsung memberikan komen pada naskah tersebut. Setelah menulis cukup banyak komen, saya bingung cara menyampaikan kepada penulis tentang perbaikan tersebut. Saya mengutak-atik sekitar satu jam. Akhirnya, saya paham bahwa saya perlu mengunggah ulang versi comment saya dan meng-email penulis agar artikel segera diperbaiki. Saya melakukan itu dengan was-was. Ada ketakutan bahwa email saya tidak sampai ke penulis. Saya berharap, penulis segera mengirim perbaikan seminggu setelah email saya kirim. Ternyata, penulis tidak juga membalas hingga 3 bulan.

Setelah penulis memulai versi revisinya, penulis menghubungi saya dan menanyakan berbagai hal teknis, seperti: bagaimana upload ulang manuskripnya di OJS? Saya yang kurang paham dengan proses OJS justru memberi jawaban salah. Singkat cerita, penulis pun bingung, apakah dia sudah berhasil mengunggah manuskrip versi terbarunya? Karena sama- sama gaptek, saya mencoba bertanya pada senior dan mereka menunjuk- kan caranya. Akhirnya, saya-lah yang men-submit manuskrip penulis tadi. Setelah berhasil melakukan submit, rasanya bangga dan senang. Tidak menyangka dapat menjadi bagian dari universitas dan mendapatkan amanah terbaik. Setelah berhasil submit, saya mulai mengutak-atik untuk meminimalisasi kesalahan-kesalahan teknis. Setelah dua bulan mengutak- atik jurnal, saya merasa sudah cukup mampu menjadi section editor. Namun untuk menjadi reviewer, saya merasa kurang mampu.

Pengalaman perdana mengelola jurnal memang menjadi salah satu milestone besar oleh kampus kami. Oleh karena itu, saya sangat menjunjung tinggi petuah bahwa pengalaman adalah guru terbaik. Dengan membiasakan diri mengutak-atik website jurnal, akhirnya saya mulai memahami business process mengelola jurnal.

 

Berawal dari Terpaksa, Lama-lama Bisa

Post navigation