ID. 089-27022018-044728-069-04


Entah…, ini termasuk tulisan apa, yang pasti jari jemari ini meluncur dengan sendirinya di atas deretan tombol keyboard komputer, seiring kerentanan yang menyelubungi tubuh ini. Seperti mimpi saja perjalanan kehidupan yang mengantarkan diri ini menjadi seorang pemulung dan pengolah bait-bait kata yang tiada seorang pun mengharapkan dan bahkan bercita-cita di atasnya. Bermula dari harapan yang tinggi keinginan untuk mendokumentasikan isi otak ini ke sebuah tulisan yang bahkan cara mengaturnya benar-benar berangkat dari keadaan nol atau bisa dikatakan minus mungkin. Maaf, bukan maksud hati ingin menyombongkan diri, tetapi terpaksa karena ini bagian dari sedikit cerita ini. Dua puluh tahun lebih di penggalan usia saya abadikan di ranah industri, dan baru di awal tahun 2016, dunia kependidikan menjadi tempat pengabdian berikutnya sampai dengan saat ini.

Teringat, setelah satu semester berlalu dan tibalah tahun ajaran baru, seperti biasa diadakanlah ajang pertemuan pengajar-pengajar satu program  studi  Sistem  Informasi.  Ini  rapat  pertama  saya  semenjak  mulai mengajar, seperti pada rapat-rapat yang sering saya ikuti sebelumnya, dengan nada datar tetapi dengan penekanan meminta, salah satunya tentang wadah untuk menuangkan ide. Terucaplah dari mulut ketua rapat yang juga kepala program studi, bahwa ternyata sudah ada wadahnya yaitu jurnal dari Program Studi Sistem Informasi yang telah memiliki ISSN untuk edisi cetak. Perasaan senang, bangga dan bersyukur langsung menyelimuti diri ini, tetapi sekaligus sedih juga karena telah bertahun- tahun dibiarkan mati suri, dan bertambah pula kesedihan diri ini ketika saya dirayu dan dipaksa untuk mengurus keadaan yang terbengkalai ini. Di sini saya merasa sedih, tetapi saya mencoba menghibur diri jika saya nantinya bisa membalikkan keadaan ini, alangkah bahagianya hati ini karena bisa sedikit membantu sesama profesi memberi tempat untuk menuangkan karya-karya dan ide cemerlang mereka.

Mulailah diri ini melalang buana ke semua tempat, yang pada akhirnya singkat cerita kedua mata ini tertuju ke sebuah tempat kumpul-kumpul (via online) yang kemudian menamakan diri dengan sebutan Relawan. Teringat jelas (mungkin karena biaya sendiri kali ya) Workshop dan Munas 1 RJI di Auditorium Merapi Fakultas Geografi UGM Yogyakarta, 6-7 Desember 2016. Di sana, rasa kagum saya semakin menjadi melihat begitu majunya dunia penjurnalan di dunia dan Indonesia khususnya. Antusiasme peserta, pengurus dan pegiat jurnal semakin membakar semangat juang saya. Pada awal itu, OJS ditempat saya, PTS di kawasan Surabaya Timur, sangat tidak diindahkan. Itulah yang menjadi keheranan saya sampai dengan mulai dikeluarkannya satu demi satu peraturan, keputusan bahkan Undang-Undang yang semuanya banyak bermuara di artikel dan alias jurnal sebagai rumahnya, mulai menjadikan PT tempat saya ‘sedikit’ menoleh ke pemberdayaan OJS.

Sampai suatu ketika, AIPT juga menjadikan jurnal sebagai point yang tinggi sebagai penilain-nya. Ada sisi negatif dari keseluruhan niat baik Pemerintah itu, yaitu menempuh jalan pintas dengan menghalalkan proses panjang itu menjadi sependek mungkin. Misalnya dengan bekal mengaku berpengalaman mengelola jurnal, ada oknum dari luar institusi menghandle beberapa jurnal kampus dan bahkan lintas kampus membuat dan mengadakan jurnal dengan cara ‘kilat’. Menyilangkan artikel antar kampus dan tindakan-tindakan curang lainnya. Definisi singkatnya kampus perlu produk jurnal secepatnya, dan oknum luar ini yang memanfaatkannya sebagai ladang uang. Dengan melegalkan seluruh proses apapun, pada awalnya pihak kampus tidak bisa melihat kekurangannya, tetapi efek kelak di kemudian harinya yang tidak diantisipasi, misalnya tidak bisa diindeks oleh lembaga manapun yang berhubungan. Jangankan diakreditasi, di indeks pun tidak ada yang nyangkut.

Waktu berlalu, peraturan-peraturan baru yang semakin solid dan sanksi yang mulai ditegakkan, membuat siapa saja mulai melek lebar dan sedikit demi sedikit membuat mulai tersadarkan. Badai sebesar apapun, saya yakin mulai sedikit demi sedikit pasti akan berlalu, meski dengan jatuh bangun dan berdarah-darah. Ini mulai terlihat dengan mulai disepakatinya MoU dan MoA antara Fakultas Ilmu Komputer dengan RJI. Dengan tertatih saya dengan beberapa teman seprofesi dari fakultas lain berkumpul dan bersatu dengan tetap pada jalan yang kami anggap benar

dengan bimbingan dan arahan teman-teman seperjuangan jurnal di RJI, serta sebagai langkah strategis kami rangkul juga teman pada posisi yang paling penting yaitu dari divisi IT kampus kami. Bukannya kami ingin memberontak dan merobohkan sistem di kampus kami, bukan itu tujuan kami, tetapi kembali ke jalan yang benar itulah hanya tujuan kami.

Hingga sampai mengantarkan kami ke Training RJI di bulan Maret 2018 ini, meski itu semuanya itu dari awal hingga akhir semuanya dengan sumber daya dan biaya pribadi masing-masing. Kami melihatnya tidak ada yang harus diawali dan tiada ujung berakhirnya, hanya pahala di akhir hayat kami yang menjadikan kami tetap bersemangat mengabdi demi jurnal. Semangat berbagi, giatkan publikasi telah merangsek di nurani ini dan menjadi daya dorong yang luar biasa bagi kami di jalan jurnal.

*Penulis adalah peserta TOT Relawan Jurnal Indonesia
Tidak ada yang Harus Diawali dan tiada Ujung Berakhirnya

Post navigation