ID. 004-21022018-103120-003-04


Saya mengelola sebuah jurnal kebahasaan dan kesastraan di sebuah instansi. Jurnal ini menerbitkan naskah berupa hasil penelitian, gagasan konseptual, kajian, aplikasi, teori, atau kritik yang belum dipublikasikan di jurnal lain. Jurnal ini pertama kali terbit pada bulan April 2010 dan terbit dua kali dalam satu tahun, yakni April dan Oktober.

Saya bergabung menjadi tim editor jurnal ini sejak awal penerbitan. Memang saya sempat mengundurkan diri pada volume kedua (dua edisi) karena ada konflik internal. Akan tetapi, saat saya keluar, jurnal ini nyaris mati. Tidak ada terbitan sepanjang tahun itu. Memasuki tahun ketiga, saya mengajukan diri untuk kembali membantu penerbitan jurnal. Tim editor langsung mempersiapkan untuk menerbitkan 4 edisi (dua volume). Hal ini benar-benar pekerjaan yang menguras energi dan waktu. Kami tergopoh- gopoh mencari naskah. Kami pun tergopoh-gopoh mengedit naskah yang masuk. Tidak jarang pula, kami juga terengah-engah melengkapi kekurangan naskah (dengan membuat artikel sendiri) agar jurnal bisa terbit.

Saya tidak sekadar mengedit, tetapi kerap merombak naskah-naskah yang ada (tentu saja setelah diserahkan sepenuhnya oleh penulis). Saat naskah dikembalikan ke penulis, kami bagai pengemis memintanya kembali. Tidak jarang pula, para penulis berkata, “saya serahkan saja sepenuhnya pada dewan redaksi”. Bagai makan buah simalakama. Akhirnya, daripada naskah lenyap, berpayah-payahlah saya mengerjakan naskah agar layak dikatakan sebagai sebuah artikel ilmiah.

Apabila tulisan yang masuk tidak dimuat, para penulis (yang saat itu sebagian besar masih merupakan rekan-rekan sekantor) akan memper- tanyakan alasan tulisan mereka tidak segera dimuat. Para penulis cenderung berpikir bahwa saat tulisan mereka jadi dan dikirim ke redaksi, berarti tulisan itu bisa segera diterbitkan, layaknya makalah yang dikumpulkan ke dosen sebagai tugas kuliah. Capek deh.

Para penulis cenderung tidak tahu proses penerbitan sebuah jurnal. Para penulis juga kerap abai pada sistematika penulisan sebuah artikel di jurnal tertentu. Memang sangat disayangkan. Memasuki volume keenam, teman-teman editorial praktis banyak yang mengundurkan diri. Alasannya karena pendapatan yang mereka peroleh tidak sepadan dengan kerja yang super-rumit yang harus dilakukan. Pekerjaan mengelola jurnal adalah pekerjaan yang menyita hampir seluruh waktu dan energi dengan imbalan yang sangat tidak setimpal. Honor sangat kecil (Rp. 250.000,00 per terbitan) dan angka kredit yang cuma 1 (untuk penunjang pula).

Saya terhenyak. Terbayang nasib jurnal yang mengenaskan. Akan tetapi, saya bertekad akan terus berjuang agar jurnal ini tetap hidup. Sayangnya, saya nyaris sendirian mengelola jurnal tercinta ini. Memang, ada rekan saya yang siap sedia selalu membantu, tetapi dia hanya bekerja sesuai arahan dan tidak memiliki inisiatif sendiri, meskipun sebenarnya sudah jelas apa yang harus dikerjakan. Sementara teman-teman lain hanya bertugas menerima honor tanpa menyentuh pekerjaan pengelolaan jurnal sedikitpun. Hehehe, miris memang.

Alhasil, bisa dikatakan saya terbirit-birit memikirkan mulai dari menerima naskah, mengelolanya (mengedit dan tidak jarang pula memperbaiki), mencetak, hingga mengurus penerbitan serta mendistribusikan jurnal cetaknya. Sungguh sebuah pekerjaan yang tidak boleh kenal lelah. Tahun 2016, saat banyak jurnal sudah mulai online, saya mengajukan diri agar mendapat pelatihan kepada atasan. Akan tetapi karena keterbatasan dana, permohonan saya ditolak. Hingga pada suatu hari, sebuah instansi di provinsi lain mengundang seorang narasumber yang membagikan ilmunya mengenai OJS. Saya meminta izin untuk ikut sebagai penyusup di kegiatan itu. Di sanalah saya mengenal OJS.

Sejak saat itu, terbentuklah rumah jurnal kami di dunia maya. Perlahan, dengan bantuan narasumber tersebut, saya mulai melengkapi isi rumah jurnal kami. Tahun 2017, saya akhirnya mengikuti diklat pengelolaan OJS. Alhamdulillah, saya perlahan semakin memahami proses mengelola jurnal daring ini. Permasalahan tidak berhenti sampai di situ. Ketika saya pulang dari Diklat, saya menularkan ilmu yang saya peroleh kepada teman-teman, khususnya anggota tim editor. Sayangnya, lagi-lagi mereka tidak tertarik. Padahal, sudah saya berikan video-video tutorial dan buku panduan pengelolaan OJS. Ya, saya hanya bisa menarik napas dalam-dalam.

Sudah kadung terjun, saya harus tetap memperjuangkan kelangsungan hidup junal ini. Saya mengurus pembuatan ISSN online. Saya menyiapkan ini itu untuk keperluan OJS. Saya menghubungi para reviewer. Saya menghubungi penulis. Saya berperan sebagai SE, CE, LE, dan penulis serta reviewer sekaligus. Sungguh sebuah pekerjaan yang maha dahsyat. Tidak sedikit penulis yang gaptek dan tidak mau mendaftar secara langsung via OJS. Daripada naskah kabur, terpaksa saya meminta mereka mengirim naskah melalui posel dan saya yang akan memainkan peranan mereka dalam OJS. Para reviewer pun demikian. SE, CE, dan LE jurnal kami juga tidak mau kalah. Akhirnya, semua peran saya mainkan sendirian.

Hingga sekarang, persoalan klasik selalu menerpa. Naskah. Kami selalu kesulitan menjaring naskah. Bagaimana solusinya agar jurnal kami dilirik orang dan mereka mau menyumbangkan tulisan ke jurnal kami? Selain itu, ada satu hal yang mengganggu saya. Menyoal bahasa. Sebagai pegawai di instansi  kebahasaan,  saya  harus  mengutamakan  bahasa  Indonesia.  Saya harus turut mendukung upaya menginternasionalkan bahasa Indonesia. Sebenarnya melalui jurnal (apalagi daring) bisa membantu menyegerakan penginternasionalan bahasa kita.

Sayangnya, sistem membuat saya mundur teratur. Jurnal yang semula saya  usahakan  berbahasa  Indonesia,  kini  harus  saya  perbaiki  perlahan. Setiap kata yang berbau Indonesia pada menu dalam jurnal, harus diubah menjadi berbahasa Inggris. Semua ini dilakukan agar jurnal ini bisa terindeks secara internasional. Benarkah harus demikian? Jurnal kami benar- benar kekurangan tenaga. Sejak Februari 2018, saya tugas belajar. Saya bisa saja melepaskan tugas berat ini. Namun, saya tidak sampai hati. Saya memutuskan tetap mengelola jurnal ini sampai titik darah penghabisan. (Hehe, terkesan lebay, ya? Tidak apalah, memang begitu adanya). Saya bertekad, awal tahun depan sudah bisa mengajukan akreditasi untuk jurnal ini.

Melalui Training RJI, saya akan terus menambah ilmu tentang pengelolaan jurnal. Saya pun tidak pernah bosan meminta teman-teman di kantor untuk terus menambah ilmu mengenai OJS. Saya meminta mereka untuk aktif di RJI daerah. Semoga semua kendala yang saya hadapi bisa mendapatkan solusi. Tentu saja saya sangat membutuhkan bantuan dan arahan para tutor yang baik hati di RJI ini.

*Penulis adalah peserta TOT Relawan Jurnal Indonesia
Kesetiaan tak Berujung

Post navigation