088-27022018-023755-068-04

Saya adalah dosen dan peneliti yang tergolong menengah, tidak terlalu senior, tetapi juga tidak bisa dikategorikan muda. Pernah diamanahi sebuah jabatan yang cukup strategis di kampus, namun karena ketidakcocokan dengan pemangku kebijakan, saya pun dilengserkan. Selama dua tahun pertama menjadi dosen biasa, tanpa menjabat, saya sangat menikmati kehidupan dosen, dengan berbagai hibah penelitian dan kegiatan menulis.

Barulah menginjak tahun ketiga saya merasa tertantang dengan paparan pak Menteri yang menuntut dosen untuk publikasi di jurnal berskala internasional. Sekilas, memang nampak wajar, supaya kualitas pendidik di perguruan tinggi memiliki standar yang setara dengan pendidik di negara tetangga. Konon katanya, pendidik di negara tetangga sudah lama “langganan” Scopus dan Web of Science. Setelah beberapa kali mengamati pergerakan publikasi ala Indonesia.

Kemudian saya menyimpulkan, bahwa publikasi peneliti dan dosen di Indonesia belum bisa “sekelas” dengan negara tetangga karena pengelolaan jurnal nya juga belum sistematis seperti negara tetangga. Jurnal-jurnal yang terbit melalui institusi Indonesia dari sisi kualitas dan kuantitas, belum menyamai jurnal-jurnal yang diterbitkan negara tetangga. Disinilah kemudian saya melihat celah yang lebar dan menyadari ketidakwajaran dalam  proses  publikasi ala Indonesia, dikarenakan tata kelola jurnal di Indonesia belum dilakukan dengan baik. Karena sebagai wadah publikasi, OJS yang ada di Indonesia, masih sangat sedikit yang sudah terakreditasi apalagi sudah terindeks Scopus. Jauh panggang dari api.

Ketidakwajaran ini membuat saya rajin mengikuti seminar dan diskusi seputar OJS di berbagai universitas dan jejaring online, dari sana saya mendapatkan banyak sekali pandangan dan ilmu baru mengenai proses OJS dan tata kelola jurnal. Apalagi, tata kelola OJS di kampus kami yang mengaku “berbasis ICT” juga masih kacau balau. Banyak OJS yang mati suri, bahkan ada yang meskipun sudah ber-ISSN namun mandeg dalam produksi, seperti pabrik yang lama ditinggal oleh pekerjanya. Hasrat hati ingin menumbuhkan kembali yang sudah mati suri ini, namun apa daya, birokrasi kampus dan dukungan para pemangku kebijakan justru menjadi penghalang. Akhirnya, saya pun memutuskan menerbitkan OJS baru.

Untungnya, saya memiliki beberapa orang partner dalam ber-OJS ria di kampus. Meskipun jumlahnya hanya beberapa, namun bersama orang- orang ini saya menemukan teamwork dan kesadaran, bahwa menjadi “relawan” memang menuntut banyak sekali pengorbanan. Ilmu kami terus bertambah seiring dengan partisipasi kami di berbagai forum dan workshop, tidak hanya yang ada di dalam kota, sering pula kami juga menimba ilmu sampai keluar kota. Kebersamaan beberapa orang ini seolah membuat saya terus memacu diri untuk rajin mengoprek OJS yang saya kelola. Suatu sore, saat kami sedang berkumpul, waktu itu kami sudah ngumpul sejak pagi untuk membuka satu per satu panel OJS dan memperbaiki tampilan OJS yang kami kelola masing-masing.

Ketika saya berhasil memajang favicon dan thumbnail, saya pun berteriak girang, seolah sudah menang lotre, padahal cuman ngedit tampilan saja dan keberhasilan kecil semacam ini kami rayakan bersama. Dengan serta merta saya share ke teman setim untuk mengganti tampilan mereka juga (inilah semangat berbagi yang tidak saya temukan di komunitas lain). Dan kami pun tertawa, menertawakan diri sendiri yang begitu awam nya mengedit tampilan jurnal, dan menertawakan keberhasilan yang kami peroleh hari itu. Menjadi pengelola jurnal pemula, adalah pengalaman yang luar biasa. Sejak bergabung dengan mereka, saya menyadari bahwa belajar dan berlatih serta berkumpul dengan sesame pengelola jurnal adalah investasi masa depan yang luar biasa.

Tim kami semakin solid dari hari ke hari, meskipun dari segi jumlah semakin surut. Beberapa rekan ada yang “menyerah” dan mengaku kalah oleh kesibukan Tri Dharma yang lain. Apalagi, pada suatu ketika, kami dikejutkan dengan munculnya OJS baru di laman web OJS kampus. Tiba- tiba ada 4 OJS yang “rasa” internasional dan diterbitkan oleh unit yang membawahi penelitian di kampus. Ternyata, para pejabat kampus mempekerjakan seorang admin di luar kampus untuk menerbitkan 4 OJS baru tersebut. Awalnya, saya tidak merasa terganggu, hanya merasa risih, dan mempertanyakan kepada diri sendiri, kok bisa, para birokrat ini tidak sabar menunggu proses OJS yang diterbitkan oleh relawan OJS intern- kampus, malah memasukkan orang asing untuk mengoprek OJS kampus.

Tidak tanggung-tanggung, si orang asing tersebut ternyata menjadi super admin yang berkuasa penuh atas OJS kampus. Sejak pengelola asing ini hadir, OJS semakin banyak masalah, sebagai manajer jurnal, saya tidak bisa lagi assign reviewer, atau sekedar ngedit roles atau user. Bahkan pernah, web kampus di hack seseorang dengan IP address yang tidak dikenal. Suudzon, jelas dong, tetapi kami para relawan jurnal, tetap stay cool. Kami pun berusaha untuk menggandeng pihak IT kampus untuk berada dalam tim. And it works, sejak super admin (a.k.a IT kampus) ada di tim, jika ada masalah, bug atau apapun, kami bisa meminta petunjuk dan masalah bisa segera diselesaikan.

Kembali ke bahasan mengenai pengelola asing ini, ternyata setelah beberapa bulan si orang asing masuk di OJS, barulah kami paham, mengapa para birokrat kelas atas di kampus saya menggandeng si asing ini. Setelah beberapa bulan, para petinggi di kampus saya melesat angka GS dan SINTA-nya. Fantastis, bahkan menembus  angka  50 lebih untuk sitasi, H indeks para pejabat juga mencapai angka puluhan. Padahal, jika ditelusuri, ternyata OJS-OJS yang dikelola si asing menjadi provider sitasi yang paling banyak. Unrealistic, too bold to be truth.

Dari awal, ternyata penerbitan OJS rasa internasional ini untuk memenuhi syahwat sitasi para pejabat. Jelas sekali sitasi nya ngawur, tidak sesuai bidang keilmuan bahkan, terlalu tidak masuk akal. Inilah kemudian yang kami sebut sebagai “penistaan publikasi”, OJS dijadikan publikasi remeh temeh untuk menaikkan angka sitasi, yang katanya demi akreditasi, memprihatinkan.

Firasat saya, dalam jangka panjang, akan sangat merugikan pengelola OJS yang “lurus”, yang percaya bahwa sitasi itu memang sebagai tanda bahwa artikel tersebut memang layak disitasi. Bukan hanya mengedit daftar pustaka melalui software sitasi lantas diakui sebagai standar kelayakan hanya untuk menaikkan angka GS. Idealisme pengelola jurnal memang sangat dibutuhkan untuk menjaga kewarasan saya sebagai peneliti.

Jika memang tujuannya untuk menaikkan angka sitasi, banyak cara yang lebih baik dan tentunya lebih lurus, serta masuk akal, daripada hanya menerbitkan OJS yang menjadi provider sitasi dan melanggengkan pe- nistaan publikasi. Maaf, curhat ini memang beneran curhat saya sebagai pengelola dan peneliti awam.

Namun semoga, di kampus-kampus lain, tidak ada orang asing yang buka lapak semacam kampus saya. Biarlah kami saja yang mengalami hal pahit ini. Karena jika suatu saat Ristekdikti mensinyalir perbuatan semacam ini, kemungkinan kami sebagai pengelola OJS yang berada di rumah yang sama akan terkena dampaknya. Ketakutan ini memacu kami untuk belajar tata kelola jurnal dengan lebih semangat, sehingga, jika saja rumah OJS kami dihancurkan, atau di-suspend oleh Ristekdikti atau LIPI, karena perbuatan mereka tersebut, kami bisa berdiri tegak untuk mem- bangun rumah jurnal OJS yang baru. Insya Allah, semoga Tuhan senantiasa menjaga kami berada di barisan para Relawan Jurnal yang lurus, dan konsisten, untuk kemajuan bangsa Indonesia.

*Penulis adalah peserta TOT Relawan Jurnal Indonesia

 

Pengalaman Mengelola Jurnal dan Tantangan Birokrasi

Post navigation