Hidup ini dinamis dan perubahan pasti terjadi. Pola ini seperti menjadi keharusan yang tidak bisa dielakkan oleh manusia. Untuk menghadapinya, manusia harus turut serta dalam perubahan tersebut atau pilihannya, mundur dan menjadi pecundang. Demikian  pula  dalam  sistem  manajemen  jurnal  di  Indonesia.  Sebelum April 2016 (ancang-ancangnya sudah sudah ada sejak tahun 2014), akreditasi jurnal masih membolehkan jurnal dalam bentuk cetak sehingga pengelolaan jurnal secara elektronik bersifat opsional. Namun, setelah itu, sistem akreditasi jurnal berlaku sebaliknya, mengutamakan jurnal elektronik dibandingkan jurnal cetak. Semenjak edaran tersebut muncul, perubahan angin dalam sistem manajemen dan tatakelola jurnal pun harus diubah. Pro dan kontra muncul dan menjadi bumbu dalam perubahan yang ada. Hasilnya selalu sama: aturan tidak berubah, pengelola jurnal harus berbenah dan beralih ke sistem online.

Inilah awal mula kemunduran yang dialami oleh jurnal yang sekarang saya kelola. Kelemahan dalam memanfaatkan teknologi atau keengganan untuk berubah membuat jurnal yang sekarang akan menerbitkan volume ke 12 (artinya sudah dikelola selama 12 tahun!) ini bernasib terkatung- katung. Posisi paling parah yang sekarang dihadapi adalah jurnal ini sudah tidak terbit di tiga nomor (issue) terakhir. Bayangkan, jurnal ini berusia sekitar 11 tahun, tetapi hanya terindeks di google scholar saja. Bahkan, untuk maju akreditasi pun jurnal ini masih tidak siap. Ini menyiratkan bahwa ada yang salah dalam manajemen pengelolaan jurnal ini. Saya bukan bermaksud untuk mencela habis jurnal yang saya kelola karena itu sama saja dengan menelanjangi diri saya sendiri, tetapi ini bisa menjadi pelajaran bagi para pengelola jurnal bahwa mengelola jurnal itu tidak bisa dikerjakan dengan main-main. Mengelola jurnal adalah jihad di bidang akademik yang sesungguhnya!

Mengelola Jurnal adalah Jihad

Tugas pengelola jurnal bisa dikatakan gampang-gampang susah. Jika mengacu pada tugas pokok masing-masing peran (role) yang ada pada OJS, tidak ada tugas  yang berat. Misalnya, Journal Manager (JM) hanya mengelola setup jurnal dan bertanggung jawab dalam publikasi jurnal. Bukan berarti seluruh tugas publikasi jurnal dikerjakan oleh JM. Seorang JM akan dibantu oleh banyak pihak lagi, seperti editor, section editor, reviewer, dan layout editor. Namun, sering kali, sesuatu yang gampang ini menjadi susah karena peran-peran ini tidak dijalankan dengan baik.

Seorang pengelola jurnal diamanatkan untuk mengelola jurnal mereka dengan baik. Kampus menuntut agar jurnal yang dikelola bisa terakreditasi secara nasional, terindeks di lembaga pengindeks bereputasi jika tidak bisa Scopus atau Web of Science, DOAJ juga tidak masalah. Namun, kampus lupa, mereka harus memfasilitasi para pengelola jurnal dengan bekal yang memadai. Yang saya alami saat ini, kontribusi kampus dalam memfasilitasi pengelola jurnal masih sangat minim. Misalnya, untuk mengecek kesamaan (similarity) naskah yang masuk, pengelola jurnal butuh bantuan aplikasi khusus semacam Turnitin, Ithenticate, Plagiarism- checker, Grammarly (yang bukan versi gratis), kampus tidak berani berkorban biaya untuk berlanggan. Apalagi sampai membantu mem- fasilitasi pendanaan yang lainnya, seperti honor/penghargaan bagi reviewer yang berkontribusi positif bagi kemajuan jurnal.

Belum lagi, tugas mengelola jurnal masih dianggap sebelah mata yang pengerjaannya setara dengan mengajar mahasiswa di kelas. Akhirnya, selain mengajar sebanyak 12 SKS ampuan mata kuliah, pengelola jurnal juga harus fokus pada tugasnya mengurus jurnal. Bagi saya, seorang pengelola jurnal harus memiliki tugas mengajar yang lebih sedikit sehingga tenaga dan pikirannya tidak terbagi pada kesibukan mengajar lagi (ini belum menghitung kemungkinan pengelola jurnal tersebut harus melakukan penelitian, membuat artikel untuk dipublikasikan, melakukan pengabdian masyarakat, atau waktu luang untuk memikirkan keluarga- nya). Di kampus saya, pengelola jurnal disetarakan dengan mengampu 2 SKS mata kuliah. Dalam kasus saya, mengelola jurnal yang sudah kacau dan ditelantarkan lebih dari satu tahun saja sudah merupakan tugas yang pelik dan membutuhkan perhatian ekstra, apalagi tugas Tri Dharma Perguruan Tinggi yang lain. Oleh karena itu, kampus juga mesti memiliki kebijakan yang pro terhadap para pengelola jurnal. Dengan lebih fokus mengelola jurnal, harapan akan tata kelola jurnal yang baik, akreditasi nasional, atau cita-cita diindeks lembaga internasional bereputasi bisa dicapai.

Penulis adalah Raja

Masalah berikutnya yang sering dijumpai seorang pengelola jurnal adalah penilaian penulis terhadap jurnal. Bagi para penulis, mereka adalah seorang raja yang harus dituruti semua kemauannya. Tidak jarang, para penulis khususnya yang berasal dari satu institusi yang sama memanfaatkan faktor kedekatan dengan pengelola jurnal. Mereka meminta bantuan agar naskah yang dimilikinya bisa dipublikasikan. Tentunya dengan sedikit drama bahwa jika tidak dipublikasikan, mereka akan dikenai denda oleh lembaga donor, syarat kenaikan jabatan tidak mencukupi, tunjangan sertifikasi dosen tidak dicairkan, atau alasan-alasan lainnya.

Pengelola jurnal sebenarnya memiliki prinsip yang sangat sederhana, “Silakan menulis artikel yang sesuai dengan scope jurnal kami lalu ikuti selingkung sesuai template yang kami sediakan. Sisanya, biarkan editor dan reviewer kami yang menilainya.” Namun, prinsip yang sederhana inilah yang tidak dipahami atau sengaja tidak mau dimaklumi oleh para penulis. Boleh saja seorang pengelola jurnal dan editorial board yang ada di dalamnya memaklumi satu atau dua tulisan. Syaratnya, mereka harus siap menghadapi konsekuensi di kemudian hari, seperti penilaian akreditasi yang tidak memadai atau dijauhi oleh lembaga pengindeks. Ujung dari semua ini, jurnal yang dikelola tidak akan dilirik oleh para penulis atau reviewer. Risiko yang terlalu berat bagi sebuah jurnal untuk harga bantuan terhadap teman sejawat.

Permasalahan ini saya temukan di jurnal yang saya kelola. Setelah saya membongkar beberapa nomor terakhir jurnal yang saya kelola ini, saya mendapati bahwa para penulis cenderung mengabaikan focus and scope, template, serta author guidelines yang dimiliki jurnal tersebut. Yang penting, tulisan mereka bisa dipublikasikan. Usut punya usut, ternyata pimpinan kampus pun terlibat dengan menekan pengelola jurnal agar menerbitkan setiap naskah yang masuk yang ditulis oleh dosen institusi sendiri. Akhirnya, dalam satu jurnal, antara artikel yang satu dengan yang lain terbit dengan gaya penulisan yang berbeda-beda (sesuai selera

penulisnya). Karena ditekan oleh pimpinan kampus, reviewer pun jadi tidak berguna. Meskipun reviewer mengatakan suatu naskah tidak memenuhi kriteria, naskah yang masuk mesti diterbitkan.

Dari gambaran di atas, saya berharap para pengelola jurnal, penulis, dan pihak kampus mampu saling memahami kebutuhan dan tanggung jawab masing-masing. Bagi pengelola jurnal, tidak ada yang lebih berharga daripada jurnal yang mereka kelola mencapai prestasi terbaik dan bisa memfasilitasi penyebaran ilmu pengetahuan yang dibagikan oleh para penulis. Sebab, tugas para pengelola jurnal ini bukan hanya mengelola jurnal, tetapi menjaga kualitas ilmu pengetahuan. Itulah mengapa menge- lola jurnal setara dengan jihad akademik!

 

Mengelola Jurnal: Jihad Akademik yang Sesungguhnya

Post navigation