ID. 072-26022018-210216-055-02


Mengelola jurnal itu “mudah”, apalagi dengan pengetahuan yang sangat minim. Itu saya alami pada saat saya memutuskan pindah home base pada bulan Juni 2017. Di perguruan tinggi yang baru, saya diberi amanah sebagai staf ahli rektor bidang penelitian. Tugas saya memberikan masukan kepada rektor dalam hal peningkatan di bidang penelitian bagi dosen dan mahasiswa. Salah satu sorotan saya adalah publikasi. Jurnal ilmiah sudah ada sejak tahun 1994, akan tetapi masih versi cetak saja. Langsung saya usulkan membuat OJS. Tidak tanggung-tanggung pula, saya menginginkan jurnal kami terindeks DOAJ.

Padahal saya tidak tahu OJS itu makanan apa? Bagaimana mengelola jurnal dengan OJS? Bagaimana cara mengusulkan jurnal untuk terindeks DOAJ? Berat rasanya membuat program kerja yang hanya mengandalkan semangat untuk memajukan publikasi di perguruan tinggi saya. Pada akhirnya saya belajar, belajar dan belajar. Teman saya waktu kuliah S3 banyak membantu karena dia mengelola jurnal di perguruan tinggi di Bandung. Diskusi pun dimulai dengan setiap hari belajar lewat WhatsApp. Pada akhirnya, karena rektor melihat keseriusan saya dalam memajukan jurnal kampus, saya dikirim mengikuti pelatihan yang diadakan Relawan Jurnal Indonesia Korda Bandung.

Setelah ikut pelatihan tersebut baru terbuka mata saya bagaimana susahnya mengelola jurnal, dibutuhkan kesabaran dan ketekunan yang tinggi, kalau mengerjakan secara ikhlas pasti hasilnya besar apalagi pahalanya. Agak tertatih-tatih juga karena dasar pengetahuan saya bukan dari ilmu komputer, saya lulusan manajemen yang kebetulan suka melakukan penelitian, suka submit artikel ke jurnal nasional maupun internasional. Tetapi punya keinginan memajukan dosen di perguruan tinggi untuk mempublikasikan artikelnya, dosen artikelnya bisa terindeks pada akhirnya nilai kum naik dan peringat perguruan tinggi meningkat. Itu saja… sederhana.

Masa-masa awal menerima artikel dari dosen untuk dipublikasikan, merupakan masa penuh kesabaran dan dedikasi. Dari melakukan penilaian tentang kesesuaian artikel dengan template-nya, mengecek plagiarisme dari artikel sampai menyurati lewat email. Karena merasa belum berpengalaman dalam hal itu dan masih dalam tahap belajar, setiiap hari saya ber-chat WA dengan teman, jika mengalami masalah ini bagaimana caranya, kalau seperti itu bagaimana. Alhamdulillah, masa itu terlewati.

Dosen di perguruan tinggi saya belum punya kebiasaan menulis di jurnal. Artikelnya yang dikirim belum menggunakan template, bahkan sistematikanya seperti skripsi yang sampai 50 halaman. Begitu dicek tingkat  plagiarismenya  kebanyakan  di  atas  40%.  Jangan  ditanya  bagaimana cara mereka mensitasi referensi. Mendeley pun mereka belum paham dan belum tahu.

Ketika artikel dikembalikan ke mereka, lama sekali mereka merivisi, padahal kita hanya memberi waktu dua minggu. Setelah ditunggu sampai satu bulanpun tidak ada revisi. Ini dilema apakah harus kita menolak

langganan karena mereka tidak merevisi? Padahal mereka adalah dosen tetap yang harus mempublikasikan artikelnya untuk nilai kum. Apakah mereka kecewa dengan keketatan sistem yang saya buat? Apakah mereka tidak punya waktu untuk melakukan revisi? Waduh, terus terang saya jadi tidak enak.

Ini merupakan tantangan bagi saya, bagaimana cara dosen menjadi gemar menulis artikel di jurnal lebih baik. Dosen harus melewati tahapan review artikelnya penuh semangat, karena revisi artikel bukan berarti kegagalan, tetapi supaya artikel merekan menjadi lebih baik. Harus ada program kerja yang konkrit untuk itu, harus ada terobosan bagi dosen seperti bimtek penulisan jurnal nasional atau internasional. Dan…… harus dimulai dari sekarang, mendorong semangat dosen, dengan mengajak bicara secara personal maupun memberikan masukan pada saat pertemuan dengan dosen. Semoga berhasil.

*Penulis adalah peserta TOT Relawan Jurnal Indonesia
Mengelola Jurnal itu “Mudah”: Sebuah Pandangan Awal

Post navigation