ID. 073-26022018-210246-056-03

Pertama kali, saya mendapat tugas sebagai pengelola jurnal saat awal tahun 2017. Saya mengira saat itu tugas yang akan saya kerjakan adalah menyunting artikel dengan jenis dan ukuran huruf yang sama, menyeragamkan format, dan membubuhkan halaman. Setelah jumlah artikel pada jurnal sudah cukup, jurnal akan dicetak. Seperti inilah pengarahan tugas yang diberikan kepada saya.

Setelah saya menjalani volume pertama saya sebagai editor, perkembangan jurnal tidak sampai sekedar diedit dan dicetak saja. Terdapat proses editing dan review artikel yang harus dilewati dan artikel harus memenuhi kriteria-kriteria tertentu sampai dapat diterbitkan. Sehingga jurnal yang memuat artikel tersebut berkualitas. Saya mulai bertanya dan mengikuti beberapa pelatihan yang diadakan.

Awal mulanya proses artikel yang masuk melalui email sehingga proses submission pada OJS dilakukan oleh editor, melakukan review sendiri, dan sampai tahap publish. Ada suatu momentum penulis artikel pernah ada yang meminta surat sakti yang menyatakan artikel atau tulisan akan dimuat di jurnal dengan alasan bahwa ini untuk keperluan akademik. Setelah mengikuti satu dua kali pelatihan ternyata proses yang dilakukan tidak benar. Sehingga pola tersebut saat ini berubah. Mulai dilakukan pembenahan terhadap proses masuk artikel sampai me-review dan publish.

Ukuran kualitas itu baru saya ketahui kemudian, istilah indeksasi dan akreditasi, “apa bedanya?”, saya pikir sama saja saat itu. Ibarat ranking, selalu yang nomor satu yang dikatakan tinggi. Ternyata berbeda pada jurnal. Saya akhirnya tertarik melihat jurnal yang saya kelola bersama tim di prodi, jurnal tersebut sudah termasuk golongan yang mana, bagaimana indeksasinya dan bagaimana akreditasinya. Saya dan rekan lain baru ditugaskan setelah jurnal ini terbit beberapa volume dengan kata lain jurnal ini telah ada sebelumnya, bukan jurnal yang masih baru. Tetapi, tampilan secara online jurnal ini belum terlihat menjual sebagai jurnal yang baik.

Jurnal ini pertama kali terbit 2011, sedangkan saat ini sudah 2018 tetapi perkembangan yang signifikan belum begitu tampak. Saya masih belum begitu menguasai bagaimana sistem jurnal online yang digunakan. Saya berusaha menelusuri secara online, membaca artikel-artikel, dan bertanya ke siapa saja, tetapi saya masih termasuk gaptek untuk mengelola jurnal pada sistem online tersebut. Ternyata tugas pengelola jurnal tidak hanya sekedar mengedit dan publikasi. Begitulah kepolosan seorang pengelola jurnal yang gagap teknologi, dan baru belajar berenang ketika sudah di tengah air.

Pernah suatu pelatihan “Jurnal menuju Akreditasi” saya mengikuti pelatihan dengan baik, saya mengikuti arahan pemberi materi sambil mengisi item-item yang diperlukan untuk mengajukan DOAJ. Tetapi ada beberapa poin tidak dapat saya lengkapi karena ketiadaan pada sistem jurnal online. Misalkan ketika diminta alamat surel beberapa item. Sedangkan saya tidak begitu paham bagaimana menampilkannya pada website. Ini salah satu kegaptekan saya dalam mengelola jurnal. Ketika ada kesempatan mengajukan akreditasi, hal ini juga terkendala untuk diajukan. Ketidaksiapan jurnal secara online untuk mengajukan akreditasi juga salah satu penyebabnya. Sehingga jurnal belum percaya diri untuk menuju akreditasi. Padahal kalau balik lagi ke sejarah jurnal ini, jurnal ini termasuk jurnal yang telah lama. Ya begitulah kepolosan saya dalam mengelola jurnal, semoga jurnal kami kedepannya lebih baik lagi.

*Penulis adalah peserta TOT Relawan Jurnal Indonesia
Kepolosan Pengelola Jurnal

Post navigation