ID. 019-24022018-170041-014-04


Yang mau menjadi pengelola jurnal adalah “orang gila yang mencintai pekerjaannya”. Apa maksudnya? Tidak sedikit pengelola jurnal kampus dituntut untuk menghasilkan terbitan jurnal yang bagus dan berkualitas, tetapi artikel yang masuk dalam pengelolaan sangat sedikit dan jika dilihat lagi, hanya beberapa orang saja yang senang menulis. Pengelola jurnal sering menertawakan dirinya sendiri, karena bekerja siang dan malam sampai larut malam dan pekerjaan dibawa pulang ke rumah, melupakan anak-anak dan suami agar jurnal kampus dapat terbit. Semua itu hanya untuk menerbitkan sebuah jurnal yang isinya sekitar 10 artikel.

Pada fakultas kami, pengelolaan jurnal dilakukan oleh dosen-dosen tetap yang menurut dekan dan lainnya tidak punya kerja. “What is that?” Mereka pikir, dosen tetap datang ke kampus hanya duduk dan mengajar. Oh tidak. Banyak beban yang kami kerjakan, misalnya urusan administrasi, jadwal, urusan dinas keluar dan sebagainya. Di samping itu, kami pun mendapatkan pekerjaan bagus yaitu sebagai pengelola jurnal. Dan kami bangga akan hal ini, walaupun kebanggaan kami ini terkadang aneh, dan sering menertawakan diri sendiri. Untuk finansial pengelola jurnal? Sebagai dosen tetap yang ditugaskan untuk mengelola jurnal, kami tidak mendapatkan tambahan khusus. Dari gaji yang diberikan, itulah semuanya.

Anehnya, kebanggaan kami ini walaupun ditertawakan tetapi dapat dimaklumi oleh orang-orang yang mencintai tulis menulis atau yang terpaksa harus menulis karya yang ilmilah. Penulis artikel ilmiah “biasa- nya” hanya mengirim artikel dalam bentuk mentahnya saja. Maksudnya? Para penulis hanya menulis tanpa melihat aturan yang kami berikan dalam setiap terbitan. Mereka menulis dan kami yang harus menyunting, mengoreksi dan sebagainya. Malahan jika ada jurnal yang sulit kami mengerti atau yang berbeda tema untuk terbitan, kami menghubungi penulisnya dan penulisnya marah-marah, karena banyak suntingan dan banyak koreksi dan sebagainya.

Hal yang mengherankan pengelola jurnal yang berhubungan dengan atasan, baik dekan, pembantu rektor II, pihak manajemen kampus dan LPPM. LPPM kami memang ada, tetapi tidak berfungsi dan tidak bekerja. Setiap ada pengumuman dari SIMLITABMAS, kami tidak pernah tahu dan tidak pernah di informasikan oleh LPPM kami. Jadi, jika ada dosen dari kampus lain mendapatkan kucuran dana dari Ristekdikti, kami hanya termenung. Sehingga, jurnal kami hanya jalan sendiri sesuai dengan keputusan fakultas, keputusan universitas dan keputusan yayasan.

Jika ada pertanyaan, apakah jurnal kami sudah OJS? Belum sama sekali. Walaupun kami sudah berteriak bahwa jurnal cetak sudah tidak diakreditasi lagi sejak April 2016. Bersyukurnya, Dekan baru kami akan menggantikan jurnal cetak kami menjadi jurnal elektronik mulai semester depan. Ini adalah kemajuan luar biasa dan juga perangkat penunjangnya sudah dibeli, sehingga kami dapat sama dengan jurnal dari universitas lainnya.

Dalam mengelola jurnal, kami sangat konsisten, terbit 2 kali dalam setahun yaitu setiap bulan Juni dan bulan Desember. Satu lagi kami konsisten, kami selalu memuat 10 artikel setiap terbit, walaupun dengan susah payah meminta pada dosen-dosen untuk menulis. Terbitan jurnal cetak kami berukuran legal, glossy dan sesuai dengan peraturan Ristekdikti.

Sekian curahan hati saya, semoga curhatan ini dapat meringankan kami dalam menjalankan tugas mengelola jurnal kampus. Akhir kata, semoga jurnal akademik di Indonesia terus maju, dan RJI terus dapat membantu dengan sabar pada setiap universitas di Indonesia dalam menerima keluhan serta menaikkan level jurnal ke tempat yang lebih baik.

*Penulis adalah peserta TOT Relawan Jurnal Indonesia
Kebanggaan sebagai Pengelola Jurnal

Post navigation