ID. 054-26022018-070041-041-02

Perkenalan saya dengan dunia jurnal untuk pertama kalinya terbilang sudah sangat lama. Masa itu, kalau tidak salah sekitar tahun 1997. Kampus kami saat itu baru saja menerbitkan sebuah jurnal ilmiah, yang digagas oleh Ketua Unit Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (UP2KM).

Tujuannya pun ketika itu masih sangat sederhana, sebuah jurnal ilmiah yang semestinya diterbitkan sebagai media untuk menyebarluaskan ilmu pengetahuan dan teknologi dari hasil-hasil penelitian dan pengabdian pada masyarakat, pada saat itu lebih cenderung hanya bertujuan sebagai media penunjang bagi para dosen untuk mengurus pangkat atau kenaikan jabatan fungsional. Demi mengakomodir banyak pihak yang berkepentingan tersebut, maka fokus dan lingkup jurnal kami melibatkan bermacam ragam disiplin keilmuan sehingga bersifat “bunga rampai”.

Sebagai satu-satunya jurnal yang ada di kampus saat itu, dan kondisi kampus yang sedang tumbuh pesat, baik dari sisi infrastruktur maupun dari sisi manusianya; khususnya tenaga pendidik atau dosen, maka kami sebagai pengelola jurnal cukup diuntungkan dengan situasi tersebut terutama dalam hal cukup banyaknya tulisan atau artikel yang masuk.

Proses penyaringan tulisan yang masuk hingga sampai ke tahap penerbitan pada masa itu masih tidak ketat dan belum melibatkan pihak- pihak luar sebagai reviewer sesuai kepakaran di bidang ilmunya masing- masing. Satu-satunya proses yang pengelola jurnal lakukan hanya bertumpu pada proses penyuntingan (editing) yang dilakukan oleh tim editor. Tim editor jurnal kami ketika itu hanya ada saya dan dibantu oleh seorang teman.

Di sinilah “perjuangan” sebagai editor; jika tidak mau disebut sebagai “penderitaan” dimulai. Dengan pengetahuan tentang tata kelola jurnal yang masih sangat minim dan dukungan dana yang hampir tidak ada, kami harus menerima dan menjalankan tugas kami sebagai tim editor. Kami berdua hari demi hari harus “memeloti” semua tulisan yang masuk ke meja redaksi dan mengoreksinya satu per satu mulai dari kesalahan pengetikan (typo error), istilah asing yang tidak dicetak miring, kalimat- kalimat yang kurang efektif, hingga masalah tata letak naskah seperti merapikan tabel-tabel dan gambar-gambar pendukung yang terkadang berantakan hingga keluar dari batas-batas margin yang ditentukan.

Yang paling menyedihkan lagi, sangat sering saya temui tulisan yang tidak ada bagian “abstrak”-nya, padahal abstrak itu wajib ada dalam naskah tulisan. Saat penulis yang bersangkutan dihubungi, biasanya mereka malah balik minta dibuatkan oleh editor, ada yang memaksa dengan memberikan imbalan seadanya namun ada juga yang tidak, hanya sepotong ucapan “Terima Kasih” yang saya terima.

Karena bidang ilmu dari tulisan-tulisan yang masuk sebagian besar dari bidang yang bukan bidang keilmuan saya, maka dengan susah payah saya harus membaca keseluruhan tulisan agar bisa membuat bagian abstrak tersebut. Kesulitan ini makin bertambah, karena Abstrak juga harus ditulis dalam bahasa Inggris. “Oh… My God! Cukuplah sudah penderitaan ini”. Akhirnya dengan kemampuan bahasa Inggris yang pas- pasan hanya Google Translator sajalah yang bisa membantu saya untuk menyelesaikan pembuatan abstract ini. Alhasil, editor dimata mereka ibarat “superman” yang bisa segala-galanya dalam urusan jurnal.

Tahun demi tahun berlalu, pekerjaan sebagai tim editor sudah jadi hal yang biasa, betapapun sulit dan sangat tidak enaknya tugas-tugas yang harus diselesaikan, karena saya sadar di balik itu semua banyak kepentingan orang lain yang bisa saya bantu dan semoga semua itu menjadi amal ibadah yang ikhlas dan mendapat balasan yang baik dari Allah.

Perkembangan tentang jurnal ilmiah khususnya di negara kita Indonesia beberapa tahun terakhir ini semakin hari semakin baik, tata kelola yang mulai berpindah dari sistem cetak ke sistem elektronik, tindakan melawan plagiarisme juga semakin gencar. Hingga tiba suatu hari dimana salah satu tulisan yang pernah diterbitkan di jurnal yang kami kelola terkena kasus plagiasi. Mengingat tata kelola kami yang masih sederhana, hanya sebatas penyuntingan saja, belum berjalannya proses review tulisan yang melibatkan pihak luar yang kompeten sebagai reviewer, dan belum adanya software atau aplikasi anti plagiarisme untuk screening naskah yang masuk, maka saya pikir ini adalah hal yang wajar terjadi di jurnal kami.

Atas kasus yang menimpa jurnal kami tersebut, suatu tindakan yang menurut kami selaku pengelola jurnal sangat ekstrem telah diambil oleh pihak Pimpinan kampus, yaitu dengan menutup alias membredel jurnal kami. Keputusan ini amat sangat mengecewakan kami. Karena tanpa adanya proses investigasi dan tidak diberikannya hak jawab kami sebagai pengelola untuk mengklarifikasi kasus tersebut, tiba-tiba jurnal kami ditutup. Seharusnya cukup penulis yang bersangkutan saja yang mendapat sanksi atau hukuman atas tindakan plagiat yang ia lakukan, jika memang terbukti demikian, bukan malah jurnalnya yang harus ditutup.

Namun apalah daya, perjalanan sebuah jurnal yang pertama terbit dalam sejarah penulisan dan publikasi ilmiah di kampus kami berakhir sudah. Jurnal yang telah berjasa mengantarkan banyak dosen ke jenjang pangkat yang lebih tinggi, terlepas dari segala kekurangan tata kelola yang dimilikinya. “Jurnalku sayang… jurnalku malang, jasa-jasamu akan selalu kukenang”.

Seluruh pengelola jurnal otomatis membubarkan diri, namun sebagai individu-individu yang memang memiliki passion dibidang jurnal, kami tidak berhenti sampai di sini. Saya dan teman-teman membentuk lagi sebuah jurnal baru, jurnal yang lahir di jaman now dengan sistem elektronik OJS-nya dan kami bertekad jurnal ini harus lebih baik dari jurnal sebelumnya. Insya Allah.

*Penulis adalah peserta TOT Relawan Jurnal Indonesia
Jurnalku Sayang, Jurnalku Malang

Post navigation