ID. 003-19022018-190347-002-04


Apa kabar sahabatku se-Indonesia raya dan sebangsa setanah air? Semoga kita semua dalam keadaan sehat tanpa kekurangan satu apa pun. Saya ingin membagikan sedikit pengalaman. Pertama kali saya bergabung di jurnal, yaitu tahun 2015. Masih gaptek. Tidak mengenal dunia teknologi. Bagi saya, jurnal adalah hal baru. Perubahan dari cetak dan sekarang dituntut online dengan OJS, wow, sangat mengesankan. Dalam satu semester, pimpinan meminta saya untuk mempelajari tata kelola OJS. Hasilnya merangkak, seolah-olah ada yang mengganjal. Bisa dibayangkan, mengelola jurnal tanpa didampingi oleh Tim IT dari Lembaga Pengembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi. Perjalanan panjang selama 2-3 tahun ini akhirnya membuahkan hasil. Kami bisa memiliki data komplit dari semua artikel yang sudah terbit secara cetak. Semua artikel dapat tersimpan di archive, mulai tahun 2004 sampai sekarang. Walaupun ada beberapa artikel yang harus di scan karena soft copy-nya sudah hilang. Pengalaman ini mengantarkan saya dan beberapa editor lain belajar tentang kesabaran serta menumbuhkan semangat untuk bangkit dari ketidaktahuan.

Selama 2-3 tahun saya mengenal jurnal, rintangan pun selalu datang silih berganti. Di tempat saya bekerja, tenaga muda dan masih fresh masih sangat dibutuhkan. Pengelola jurnal dituntut untuk bisa segalanya, mulai dari mendalami system sampai melakukan tugas sebagai editor maupun pelaksana dan sampai jurnal siap terbit. Sebagai seorang journal manager, saya melakukan semuanya, mulai dari submit yang masih melalui email sampai sekarang yang sudah menggunakan OJS. Saat pemilik artikel mau submit ke OJS, mereka mengirimkan file dalam bentuk pdf dan doc. Semua itu harus segera diunggah karena deadline. Mereka tidak melihat ketentuan bahwa batas upload sudah lewat dan proses publishing sebentar lagi.

Mereka hanya tahu ‘pokoknya terbit’ karena tuntutan bahwa luaran penelitian yang mereka lakukan adalah submit di jurnal yang saya kelola. Kami, baik chief editor dan journal manager merasa kebingungan. Padahal artikel harus di-review dulu. Karena keterbatasan waktu, kami meminta reviewer untuk secepat kilat menyelesaikannya. Artikel yang akan dimuat juga harus diperbaiki karena masih banyak kesalahan dan perlu penambahan. Kadang ada penulis yang baik hati mau segera membenahi, tetapi tidak jarang ada juga yang berperilaku ‘masa bodoh’. Akhirnya, pengelola yang memperbaiki artikel tersebut dengan segala keterbatasan dan kemampuan yang ada. Mengapa harus dimuat? Pada edisi tertentu, kami kekurangan artikel. Oleh karena itu, artikel tetap diterbitkan walaupun kualitasnya tidak bagus.

Saya sangat berterima kasih kepada RJI karena telah memberi tambahan ilmu tentang mengelola jurnal. RJI juga mau berbagi kepada rekan-rekan pengelola lainnya. Semoga RJI dapat membagikan ilmu dan menambah jalinan tali silaturahmi kepada sesama pegiat jurnal. Melalui pengelola jurnal, kita berharap dapat membuat Indonesia tidak hanya ‘Sudah Merdeka’, tetapi ‘Indonesia Memang Merdeka’.

*Penulis adalah peserta TOT Relawan Jurnal Indonesia
Bangkit dari Ketidaktahuan

Post navigation